Fenomena Bumerang AI: Perusahaan Tarik Lagi Karyawan yang Kena PHK
Sejumlah korporasi merekrut kembali staf lama setelah kinerja kecerdasan buatan dinilai belum sepadan dengan manusia.
Ilustrasi: liput24
Poin penting
- Perusahaan mulai merekrut kembali staf yang diganti AI karena sistem butuh banyak pengawasan.
- Riset menemukan kecerdasan buatan masih sulit meniru pengetahuan internal dan kerja sama tim.
- Perusahaan seperti Klarna dan Ford menambah kembali tenaga kerja manusia setelah memakai AI.
Banyak perusahaan memangkas pegawai demi beralih ke kecerdasan buatan. Namun, langkah efisiensi itu tidak selalu berjalan mulus.
Kini muncul fenomena pemanggilan kembali mantan pekerja. Istilah ini dikenal luas sebagai bumerang AI.
Sejumlah pemberi kerja menyadari performa peranti cerdas belum memuaskan. Pekerja yang sempat diputus kontrak pun ditarik kembali.
TechXplore melaporkan pemangkasan staf era kecerdasan buatan berdampak pada puluhan ribu orang. Belum jelas seberapa luas fenomena pemanggilan kembali ini terjadi. Namun, kasus bumerang tersebut kini sudah sering terlihat di lapangan.
Tahun ini Microsoft, Barclays Bank, dan jaringan toko Kroger memangkas tenaga kerja. Mereka mengalihkan dana demi berinvestasi pada teknologi baru.
Namun, mesin kerap gagal menggantikan peran manusia secara penuh. Hasil kerja sistem otomatisasi tersebut rupanya masih memerlukan banyak perbaikan.
Alasan Mesin Belum Siap
Firma perekrutan Robert Half menemukan pola serupa di berbagai industri. Sektor keuangan, pemasaran, hukum, dan kesehatan mulai merekrut staf lagi.
"Ketika Anda butuh pemikiran kritis, kolaborasi, kreativitas, dan pengetahuan institusional, AI tak bisa menirunya," kata Bill Driscoll, Senior District President Robert Half.
Teknologi ternyata butuh pengawasan manusia yang jauh lebih banyak. Selain itu, mesin tidak sanggup meniru pengetahuan internal perusahaan.
Layanan keuangan Klarna mulai merekrut petugas layanan pelanggan manusia lagi. Pimpinan Klarna mengakui ketergantungan kantor pada robot percakapan sudah kelewat batas.
Pabrikan mobil Ford juga merekrut atau menaikkan jabatan 350 insinyur senior. Kebijakan ini diambil usai alat kendali mutu otomatis bekerja di bawah target.
Betsy Summers dari firma riset Forrester menyoroti kerja tak terlihat manusia. Kerja ini mencakup pembacaan emosi, rapat dadakan, dan pembangunan rasa saling percaya.
Prosedur kerja harian di banyak kantor juga tidak tercatat rapi. Ketidaksiapan catatan alur kerja ini menyulitkan sistem cerdas bekerja mandiri.
Guru besar Universitas Georgetown, Brooks Holtom, menilai perusahaan kurang membedah alur kerja. Akibatnya, nilai tambah peran manusia luput dipahami sejak awal.
Lucy Beaumont dari penyedia alat uji kerja SHL memberi pandangannya. Menurut Beaumont, banyak manajemen terpaksa menarik kembali pekerjanya secara diam-diam karena malu.
Apa Artinya bagi Pelaku Usaha
Bagi direksi dan pemilik bisnis, fenomena bumerang ini menjadi pengingat penting. Mengganti staf dengan mesin secara tergesa-gesa justru menciptakan risiko biaya ganda.
Rekrutmen ulang memakan waktu panjang dan mengacaukan operasional harian kantor. Biaya pesangon awal dan kompensasi kontrak baru justru memperbesar pengeluaran perusahaan.
Rasa percaya staf yang dipanggil kembali juga biasanya sudah telanjur rusak. Manajemen harus bekerja lebih keras demi memulihkan loyalitas mereka di tempat kerja.
Pelaku usaha di Indonesia sebaiknya menempatkan peranti cerdas sebagai pendukung staf. Jangan terburu-buru menghapus posisi karyawan sebelum sistem terbukti stabil di lapangan.
- TechXplore: What to consider if a company that made AI-related job cuts wants you back
Lihat hasil pemeriksaan (11 klaim)
| Klaim | Putusan | Dasar di sumber |
|---|---|---|
| Muncul fenomena pemanggilan kembali pekerja yang terdampak PHK AI, yang dijuluki fenomena bumerang AI. | Didukung | “Some companies, after discovering that AI models, applications and agents don't perform as well as expected, end up rehiring laid-off workers to fill eliminated positions. It's unclear how common such” TechXplore |
| Pemangkasan staf era kecerdasan buatan berdampak pada puluhan ribu orang. | Didukung | “But the job cuts of the AI era, which are affecting tens of thousands of people, occasionally have an epilogue.” TechXplore |
| Microsoft, Barclays Bank, dan Kroger memangkas tenaga kerja tahun ini untuk mengalihkan dana investasi ke AI. | Didukung | “Microsoft, Barclays Bank and supermarket chain Kroger are among the latest entries on a growing list of companies that have announced AI-related workforce reductions this year” TechXplore |
| Manajer perekrutan di bidang keuangan, pemasaran, hukum, dan kesehatan melaporkan mempekerjakan kembali peran yang sempat dihapus akibat AI. | Didukung | “Hiring managers in fields including finance, marketing, law and health reported earlier this year that their companies had eliminated positions primarily because of AI or automation, only to hire again” TechXplore mengutip Robert Half |
| Alasan utama pengembalian pekerjaan adalah teknologi butuh pengawasan manusia lebih banyak dan tak mampu meniru pengetahuan institusional. | Didukung | “The most frequently cited reasons for restoring dropped jobs included the technology needing more human oversight than anticipated and its inability to replicate institutional knowledge” TechXplore mengutip Robert Half |
| Klarna mulai merekrut kembali staf layanan pelanggan manusia setelah ketergantungan pada chatbot AI dinilai melampaui batas. | Didukung | “Klarna, the Swedish provider of buy now, pay later services, began recruiting human customer service representatives again last year.” TechXplore |
| Ford merekrut atau mempromosikan 350 insinyur berpengalaman setelah alat kendali mutu AI tidak berkinerja sesuai harapan. | Didukung | “In June, Ford said it had hired or promoted 350 veteran engineers after AI tools the automaker deployed to do quality control work did not perform at the expected level.” TechXplore |
| Betsy Summers dari Forrester menyatakan perusahaan melewatkan kerja tak terlihat seperti membaca emosi, rapat dadakan, dan pembentukan kohesi serta kepercayaan tim. | Didukung | “When companies use AI to perform tasks previously done by people, they often miss the invisible work employees do beyond their formal job descriptions, said Betsy Summers” TechXplore |
| Prosedur operasional perusahaan tidak selalu terdokumentasi dengan baik, menyulitkan penyerahan pekerjaan ke AI. | Didukung | “Another factor that complicates assigning more work to AI-powered tools is that company procedures for tasks such as data processing and bookkeeping are not always well documented” TechXplore |
| Brooks Holtom menyatakan organisasi tidak meluangkan waktu cukup untuk memahami alur kerja dan kontribusi nilai manusia. | Didukung | “"Organizations are not spending enough time doing the up-front work to really truly understand workflows and where humans add value in the process," said Brooks Holtom” TechXplore |
| Lucy Beaumont dari SHL menyebut perusahaan kerap menarik kembali kebijakan penggantian pegawai ke AI secara diam-diam. | Didukung | “However, companies don't always broadcast their U-turns on shifting resources or responsibilities from employees to AI systems, Beaumont said.” TechXplore |
Video AI terbaru
ChatGPT Enterprise at Zendesk: Putting Company Data to Work