Langsung ke isi
· Kabar AI, jernih dan terverifikasiNewsletter  ·  Majalah
Tampilan
Pengaturan tampilan
Tema

Kabar AI yang mudah dibaca.

Pilihan tersimpan di perangkat Anda.

Langganan
Terkini
Trending

Interpol Peringatkan AI Bikin Penipuan Siber Makin Cepat dan Luas

Interpol memperingatkan bahwa AI melipatgandakan serangan siber. Direksi perusahaan diminta segera memetakan aset penting demi menjaga bisnis.

Ilustrasi: AINewsID

Poin penting

  • AI mempercepat dan memperluas skala penipuan siber yang sudah ada.
  • Perusahaan perlu memetakan aset bisnis paling krusial sebelum membangun pertahanan siber.
  • Sistem otonom atau agentic AI dapat memicu risiko bahaya nyata hingga ranah fisik.

Kejahatan siber kini makin cepat dan menyasar banyak korban sekaligus berkat kecerdasan buatan. Hal ini memperbesar risiko kerugian bagi kelangsungan operasional bisnis.

Lembaga kepolisian dunia Interpol menyebut kecerdasan buatan tidak merevolusi kejahatan siber. Teknologi ini justru melipatgandakan taktik penipuan yang sudah ada sebelumnya.

Keterangan tersebut disampaikan oleh Bjorn R. Watne, Global Chief Information Security Officer Interpol, sebagaimana dilaporkan Detik dari CNBC.

Watne menilai ancaman ini adalah sebuah evolusi. Pelaku kejahatan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menargetkan banyak korban secara bersamaan.

Teknologi terjemahan dan identitas digital kini juga makin canggih. Akibatnya, calon korban semakin sulit membedakan interaksi penipuan dengan komunikasi asli.

Langkah Melindungi Aset Perusahaan

Watne menyarankan para pemimpin bisnis untuk memprioritaskan perlindungan aset paling krusial. Aset ini adalah hal utama yang menjaga kelangsungan operasional bisnis.

Setelah itu, tentukan pihak yang paling berminat mencuri atau mengganggu aset tersebut. Perusahaan dapat memanfaatkan data ancaman untuk memahami taktik pelaku dan menyesuaikan sistem pertahanan.

"Perusahaan tidak perlu berusaha melindungi diri dari segala ancaman secara bersamaan jika bukan target dari ancaman tersebut," kata Bjorn R. Watne, Global Chief Information Security Officer Interpol.

Sistem pertahanan yang dibutuhkan bisa berbeda-beda. Penjahat musiman membutuhkan penanganan yang berbeda dari ancaman yang terus-menerus mengintai.

Masalahnya, strategi keamanan siber sering terhambat karena belum sejalan dengan manajemen senior. Isu keamanan siber juga belum sepenuhnya menjadi agenda utama di tingkat dewan direksi.

Ancaman Sistem AI Mandiri

Interpol juga mewaspadai kemunculan agentic AI. Istilah ini merujuk pada sistem kecerdasan buatan yang dirancang untuk mengambil tindakan secara mandiri atas nama pengguna.

Kesalahan pada sistem otonom ini tidak cuma menyebar informasi keliru. Tindakan yang keliru bisa meluas hingga menimbulkan bahaya nyata di dunia fisik, seperti pada kendaraan otonom.

"Memberikan informasi yang salah itu satu hal. Namun, ketika AI benar-benar menjalankan suatu tindakan dan mulai melakukan kesalahan, terutama di ranah fisik, hal tersebut dapat berisiko mencelakai fisik manusia," kata Bjorn R. Watne, Global Chief Information Security Officer Interpol.

Risiko ini makin besar karena tingkat kepercayaan masyarakat terhadap teknologi sangat tinggi. Banyak orang terbiasa langsung mengeklik notifikasi dan memberi izin akses pada aplikasi baru tanpa kehati-hatian.

Dampaknya bagi Pelaku Usaha

Bagi pemilik bisnis dan direksi, keamanan data tidak bisa lagi diserahkan sepenuhnya ke staf teknis. Setiap perusahaan saat ini pada dasarnya adalah perusahaan teknologi informasi.

Manajemen perlu mulai memeriksa kembali sistem pertahanan serta izin akses perangkat otomatis di kantor. Membatasi proteksi pada aset utama dan mengawasi sistem otonom dapat mencegah risiko kerugian finansial.

✓ Lolos pemeriksaan redaksi AI. Artikel ini ditulis AI, 9 klaimnya dicocokkan dengan sumber, dan diuji keterbacaannya sebelum terbit. Menemukan kekeliruan? Laporkan ke redaksi.
Lihat hasil pemeriksaan
Pembuka: 8/10Kejelasan: 8/10Struktur: 8/10Manfaat: 8/10Bahasa: 8/10
KlaimPutusanDasar di sumber
Interpol memperingatkan AI meningkatkan kecepatan dan skala kejahatan atau penipuan siber.Didukung“Menurut Interpol, kecerdasan buatan (AI) memfasilitasi ancaman siber dengan meningkatkan taktik kejahatan yang sudah ada.”
Detik melaporkan pernyataan Interpol mengenai peran AI dalam memperluas taktik kejahatan siber.
Bjorn R. Watne menjabat sebagai Global Chief Information Security Officer Interpol.Didukung“Bjorn R. Watne selaku Global Chief Information Security Officer Interpol.”
Detik menyebutkan jabatan Watne di Interpol.
AI digunakan penipu untuk menargetkan banyak korban secara bersamaan, didukung kemajuan terjemahan dan identitas digital.Didukung“Pelaku penipuan dapat menggunakan AI untuk menargetkan banyak korban secara bersamaan, sementara teknologi terjemahan dan identitas digital yang makin canggih membuatnya makin sulit untuk membedakan”
Detik memaparkan cara penipu memanfaatkan AI dan teknologi identitas digital.
Watne menyarankan perusahaan mengidentifikasi aset paling krusial terlebih dahulu untuk kelangsungan bisnis.Didukung“Watne menyarankan perusahaan terlebih dulu mengidentifikasi aset paling krusial untuk menjaga kelangsungan operasional bisnis”
Detik mengutip saran perlindungan aset bisnis dari Watne.
Watne menyatakan perusahaan tidak perlu melindungi diri dari segala ancaman bersamaan jika bukan target dari ancaman tersebut.Didukung“Perusahaan tidak perlu berusaha melindungi diri dari segala ancaman secara bersamaan jika bukan target dari ancaman tersebut,”
Kutipan langsung Watne di Detik.
Isu keamanan siber belum sepenuhnya menjadi agenda utama dewan direksi pada banyak perusahaan.Didukung“isu keamanan siber belum sepenuhnya menjadi agenda utama di tingkat dewan direksi pada banyak perusahaan.”
Detik mengutip penjelasan mengenai prioritas direksi terhadap isu siber.
Setiap perusahaan pada dasarnya adalah perusahaan TI.Didukung“saat ini tiap perusahaan pada dasarnya adalah perusahaan TI,”
Detik mengutip pernyataan Watne.
Agentic AI berisiko mencelakai fisik manusia jika melakukan kesalahan saat menjalankan tindakan di ranah fisik.Didukung“ketika AI benar-benar menjalankan suatu tindakan dan mulai melakukan kesalahan, terutama di ranah fisik, hal tersebut dapat berisiko mencelakai fisik manusia,”
Kutipan langsung Watne mengenai bahaya fisik dari kesalahan tindakan AI di Detik.
Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap teknologi sangat tinggi, seperti kemudahan mengeklik notifikasi dan memberi izin akses.Didukung“Terkait teknologi, tingkat kepercayaan masyarakat sangatlah tinggi," kata Watne. Misalnya, betapa mudahnya orang-orang mengeklik notifikasi dan memberikan izin akses pada teknologi baru.”
Detik memaparkan analisis Watne terkait perilaku pengguna teknologi.

Sumber: Detik: Peringatan Interpol: AI Tingkatkan Skala dan Kecepatan Kejahatan Siber

Baca juga