Langsung ke isi
· Kabar AI & robotika, jernih dan terverifikasiNewsletter  ·  Majalah  ·  Kelas & Layanan
Tampilan
Pengaturan tampilan
Tema

Kabar AI yang mudah dibaca.

Pilihan tersimpan di perangkat Anda.

Langganan
Terkini
Trending

Negara Bagian Delaware Siapkan Aturan Perusahaan Dijalankan AI Tanpa Manusia

Delaware berencana mengizinkan badan usaha yang dipimpin langsung oleh agen AI. Pemilik modal berpeluang terlindung dari tanggung jawab hukum.

Ilustrasi: AINewsID

Poin penting

  • Delaware merancang badan usaha baru bernama Artificial Intelligence Company atau AIC.
  • Agen AI dapat mengelola bisnis mandiri, menandatangani kontrak, hingga menuntut di pengadilan.
  • Rancangan ini menuai kritik kongres Amerika Serikat karena dinilai memberi tameng hukum berlebih.

Negara bagian Delaware di Amerika Serikat menyiapkan aturan baru yang kontroversial. Aturan ini berencana mengizinkan perusahaan berjalan sepenuhnya di bawah kendali kecerdasan buatan.

Artinya, perusahaan tidak lagi membutuhkan pimpinan manusia untuk beroperasi sehari-hari. Rancangan ini dilaporkan oleh media teknologi Ars Technica baru-baru ini.

Bentuk entitas baru ini bernama Artificial Intelligence Company atau disingkat AIC. Konsep ini memungkinkan agen AI menjalankan bisnis secara sah di mata hukum.

Agen AI adalah sistem perangkat lunak mandiri. Perangkat ini bisa mengambil keputusan kerja tanpa perlu bantuan manusia di setiap langkah.

Bisa Tanda Tangan Kontrak dan Masuk Pengadilan

Rancangan undang-undang ini membuka pintu bagi hampir semua bidang usaha. Namun, aturan tersebut secara tegas melarang AI mengelola bisnis perbankan.

Perusahaan AI ini nantinya dapat membeli aset, membayar pemasok, dan membuat utang. Agen AI bahkan bisa mengajukan gugatan ke pengadilan.

"Anything that a company can do, the AIC can do as a company," kata John Mark Zeberkiewicz, perancang utama draf regulasi dari firma hukum Richards Layton and Finger.

Kutipan Zeberkiewicz itu dimuat pertama kali oleh media Spotlight Delaware pada Juni 2026. Regulasi tersebut direncanakan masuk ke parlemen Delaware pada tahun depan.

Delaware berencana menguji sistem ini lewat ruang uji coba atau sandbox regulasi. Pengujian itu akan berjalan selama 30 bulan penuh.

Uji coba ini melibatkan kemitraan publik dan swasta bersama Norm Ai. Perusahaan tersebut dipimpin oleh John Nay.

Sekretaris Negara Bagian Delaware Charuni Patibanda-Sanchez menulis gagasannya di majalah Fortune pada Juli 2026. Menurut dia, teknologi otonom perlu wadah hukum resmi agar tercatat dan terlacak.

Tameng Hukum bagi Pemilik Modal Menuai Protes

Rancangan aturan ini menyebut pemilik modal hanya bertugas menyetor dana awal. Pemilik dana tersebut tidak bertanggung jawab atas kerugian akibat keputusan ceroboh agen AI.

Kelonggaran tersebut memicu kritik keras dari Kongres Amerika Serikat. Ketua Komite Pengawasan DPR James Comer mengirim surat resmi kepada Gubernur Delaware Matt Meyer.

"We are concerned that Delaware’s AIC proposal could be used to protect powerful AI companies and their investors from responsibility for reckless harmful actions," kata James Comer, Ketua Komite Pengawasan dan Reformasi Pemerintah DPR AS.

Comer meminta dokumen penyusunan aturan dan mengkaji opsi undang-undang federal pembatas. Juru bicara Gubernur Matt Meyer menyatakan pihaknya sedang mempelajari isi surat tersebut.

Delaware sendiri merupakan rumah bagi sekitar dua pertiga perusahaan daftar Fortune 500. Sebanyak 334.461 entitas baru didirikan di negara bagian tersebut pada tahun 2025.

Pendapatan dari biaya pendaftaran badan usaha memang menjadi pendorong utama pemerintah lokal. Pengusaha Mark Cuban juga sempat menyarankan izin pendirian perusahaan via AI pada April 2026.

Profesor hukum Andrew Baker dari UC Berkeley memberi catatan kritis kepada Financial Times. Ia menilai tameng perlindungan hukum bagi pemilik modal itu terlihat terlalu longgar.

Profesor Martin Petrin dari York University juga berbicara kepada Bloomberg. Ia memperkirakan negara bagian lain akan bersaing membuat aturan serupa jika pemerintah federal tidak turun tangan.

Apa Artinya bagi Pelaku Usaha

Rancangan regulasi ini menunjukkan arah masa depan pengelolaan kantor modern. Otomasi kini mulai melangkah masuk ke tingkat pengambil keputusan tertinggi.

Bagi pimpinan bisnis di Indonesia, perkembangan ini membawa peluang sekaligus risiko tata kelola. Biaya operasional manajemen bisa turun jika keputusan rutin diserahkan ke perangkat lunak.

Namun, risiko hukum kerja sama dagang lintas negara menjadi jauh lebih rumit. Perusahaan mitra luar negeri kelak mungkin tidak dipimpin oleh manusia lagi.

Pelaku usaha perlu mulai memetakan batasan wewenang sistem cerdas di kantor. Tanggung jawab hukum akhir sebaiknya tetap berada di tangan direksi manusia.

✓ Lolos pemeriksaan redaksi AI. Artikel ini ditulis AI, 10 klaimnya dicocokkan dengan sumber, dan diuji keterbacaannya sebelum terbit. Menemukan kekeliruan? Laporkan ke redaksi.
Sumber berita (1):
  1. Ars Technica: "No human at the helm": Delaware plan would let AI agents run entire businesses
Lihat hasil pemeriksaan (10 klaim)
Pembuka: 8/10Kejelasan: 8/10Struktur: 8/10Manfaat: 7/10Bahasa: 7/10
KlaimPutusanDasar di sumber
Delaware merancang pembentukan badan usaha baru bernama Artificial Intelligence Company (AIC) yang dapat dioperasikan oleh agen AI tanpa pimpinan manusia.Didukung“efforts to establish a new form of corporate entity to be known as an Artificial Intelligence Company (AIC)”
Ars Technica mengutip surat James Comer yang merujuk pada upaya Delaware mendirikan entitas AIC.
Rancangan undang-undang AIC mengizinkan kegiatan bisnis apa pun yang sah kecuali bisnis perbankan.Didukung“An AIC may have any lawful purpose, regardless of whether for profit, except for the business of banking”
Ars Technica mengutip langsung draf undang-undang Delaware tersebut.
Perusahaan AI dapat menggugat dan digugat, memiliki dan melepas aset, serta membuat perikatan/utang.Didukung“At the agent’s direction, the AIC can sue and be sued in its own name, hold and dispose of property, and incur obligations.”
Dikutip Ars Technica dari artikel opini Sekretaris Negara Bagian Delaware di Fortune.
John Mark Zeberkiewicz menyatakan AIC dapat melakukan apa pun yang bisa dilakukan perusahaan biasa.Didukung“Anything that a company can do, the AIC can do as a company”
Kutipan langsung dari Zeberkiewicz yang dilaporkan Spotlight Delaware dan dikutip Ars Technica.
Delaware merencanakan regulatory sandbox selama 30 bulan untuk menguji coba konsep AIC.Didukung“The bill proposes a “regulatory sandbox” that would exist for 30 months to test the idea.”
Disebutkan dalam laporan Ars Technica terkait draf undang-undang.
Kerangka kerja sama regulatory sandbox dikembangkan bersama perusahaan Norm Ai yang dipimpin John Nay.Didukung“The framework for industry engagement with AICs is being developed in Delaware as part of a public-private partnership led by Norm Ai”
Dikutip Ars Technica dari tulisan bersama Patibanda-Sanchez dan John Nay di Fortune.
Pemilik modal dilindungi dari tanggung jawab atas tindakan atau kelalaian yang diambil oleh AIC.Didukung“The member is not liable for any act or omission that the AIC takes or fails to take”
Ars Technica mengutip teks dari draf rancangan undang-undang Delaware.
Ketua Komite Pengawasan DPR AS James Comer mengirim surat kepada Gubernur Delaware Matt Meyer menyatakan kekhawatiran aturan ini melindungi perusahaan AI dari tanggung jawab tindakan ceroboh.Didukung“We are concerned that Delaware’s AIC proposal could be used to protect powerful AI companies and their investors from responsibility for reckless harmful actions”
Kutipan langsung dari surat James Comer yang dimuat Ars Technica.
Sekitar dua pertiga perusahaan Fortune 500 didirikan di Delaware dan 334.461 entitas baru dibentuk di negara bagian tersebut pada 2025.Didukung“about two-thirds of Fortune 500 companies are incorporated in the state”
Dilaporkan oleh Ars Technica mengutip data resmi Delaware.
Profesor hukum UC Berkeley Andrew Baker menilai perlindungan tanggung jawab dalam proposal Delaware tampak terlalu longgar.Didukung“to be an overly generous liability shield, which seems unwarranted without some underlying policy rationale that hasn’t been developed or justified well”
Kutipan pernyataan Andrew Baker kepada Financial Times yang dimuat di Ars Technica.

Video AI terbaru

How AI Is Advancing Human Health NVIDIA

Baca juga