Regal dan Cinemark Tolak Film Baru Brad Pitt dari Netflix
Bioskop Regal dan Cinemark menolak menayangkan sekuel film Quentin Tarantino karena jeda rilis ke streaming Netflix dinilai terlalu singkat.
Ilustrasi: liput24
Poin penting
- Regal dan Cinemark menolak tayangkan film Cliff Booth karena jeda bioskop ke streaming hanya 27 hari.
- AMC dan jaringan bioskop independen tetap memutar film tersebut bersama penayangan khusus di layar Imax.
- Netflix masih membatasi jeda rilis panjang di bioskop hanya untuk kategori film keluarga tertentu.
Bioskop Regal dan Cinemark menolak memutar film terbaru Netflix berjudul The Further Mis-Adventures of Cliff Booth. Film ini dijadwalkan tayang perdana pada 25 November. Penolakan ini membatasi akses penonton layar lebar secara drastis.
Keputusan tersebut diambil karena jeda rilis ke layanan streaming dinilai terlalu pendek. Film karya penulis Quentin Tarantino ini hanya berjarak 27 hari sebelum hadir di Netflix. Pelanggan Netflix bisa menontonnya di rumah mulai 23 Desember.
Deadline melaporkan, film ini tetap mendapatkan ruang di layar Imax selama dua pekan. Jaringan bioskop terbesar, AMC, serta sejumlah bioskop independen juga tetap menayangkannya. Namun absennya Regal dan Cinemark membuat potensi pendapatan tiket berkurang besar.
Konflik Jadwal Tayang Bioskop
Musim liburan akhir tahun ini sangat padat dengan film layar lebar lain. Ada film The Hunger Games: Sunrise on the Reaping dari Lionsgate. Universal juga merilis film komedi Focker-in-Law yang dibintangi Ariana Grande, Ben Stiller, dan Robert De Niro.
Hubungan antara penyedia layanan streaming dan pemilik bioskop memang kerap naik turun. Pada Agustus 2025 lalu, AMC menolak menayangkan film Kpop Demon Hunters Singalong. Saat itu film tersebut sudah tayang satu bulan di Netflix.
Sebaliknya, Regal dan Cinemark justru bersedia memutar film musikal itu. Langkah tersebut sukses menghasilkan pendapatan 19 juta dolar AS pada akhir pekan perdananya. Film itu bahkan berhasil memuncaki tangga box office saat itu.
Pola Jeda Rilis dan Strategi Netflix
Netflix sebenarnya mulai mencoba memperpanjang jeda rilis untuk beberapa film layar lebar. Contohnya adalah film pemenang festival Cannes berjudul La Bola Negra. Langkah ini menunjukkan sinyal positif bagi para pengelola gedung bioskop.
Sutradara Greta Gerwig juga mendapatkan jeda tayang 50 hari untuk film Narnia: The Magician’s Nephew pada Februari mendatang. Film Charlie Vs The Chocolate Factory juga direncanakan mendapat jeda 47 hari pada liburan mendatang.
Namun manajemen Netflix masih membatasi perlakuan khusus tersebut. Menurut laporan Deadline, Netflix menganggap hanya film keluarga yang layak mendapat jeda rilis panjang. Film untuk penonton dewasa biasanya mendapat waktu bioskop yang jauh lebih sempit.
Kebijakan jeda pendek pernah terbukti merugikan pendapatan film Netflix sebelumnya. Film Knives Out: Wake Up Dead Man karya sutradara Rian Johnson hanya diberi jeda 17 hari. Tiga jaringan bioskop terbesar menolak, sehingga film hanya meraih 4 juta dolar AS di pasar domestik.
Hasil itu sangat berbeda dengan film sebelumnya, Glass Onion, yang tayang selama 30 hari di bioskop. Film rilisan 2022 tersebut meraih pendapatan 13,3 juta dolar AS dari 696 bioskop selama lima hari libur Thanksgiving.
Padahal film orisinal Knives Out pada 2019 meraup 41,4 juta dolar AS pada pembukaan lima hari. Total pemasukannya mencapai 165,3 juta dolar AS domestik dan 312,8 juta dolar AS global. Johnson menjual sekuel tersebut ke Netflix senilai 400 juta dolar AS saat pandemi.
Film pertama Cliff Booth, Once Upon a Time in Hollywood, juga sukses besar di bioskop. Film itu meraih pembukaan 41 juta dolar AS di bioskop domestik. Total pendapatan globalnya tembus 409,3 juta dolar AS dan memberi Brad Pitt piala Oscar.
Apa Artinya bagi Pelaku Usaha
Kasus ini memberikan pelajaran penting bagi para pelaku usaha, termasuk di Indonesia. Kemitraan antara platform digital dan gerai fisik memerlukan pembagian keuntungan yang seimbang. Jika salah satu pihak merasa dirugikan, kerja sama distribusi berpotensi terputus di tengah jalan.
Para pemimpin bisnis harus cermat saat mengatur waktu peluncuran produk baru. Mempercepat ketersediaan produk di kanal daring memang menarik bagi sebagian konsumen. Namun langkah terburu-buru bisa mengorbankan pendapatan besar dari jalur penjualan fisik konvensional.
Segmentasi produk juga memainkan peran yang sangat menentukan dalam strategi distribusi. Strategi yang sukses pada satu kelompok produk belum tentu cocok untuk produk lainnya. Pemimpin perusahaan perlu bersikap lentur agar hubungan jangka panjang dengan mitra tetap terjaga.
- Deadline: ‘The Further Mis-Adventures Of Cliff Booth’: Netflix Brad Pitt Pic Won’t Be Playing Top Chains Regal & Cinemark
Lihat hasil pemeriksaan (15 klaim)
| Klaim | Putusan | Dasar di sumber |
|---|---|---|
| Regal dan Cinemark menolak menayangkan film The Further Mis-Adventures of Cliff Booth. | Didukung | “Regal and Cinemark , won’t be playing Netflix’s Quentin Tarantino penned Once Upon a Time in Hollywood follow-up, The Further Mis-Adventures of Cliff Booth” Deadline melaporkan bahwa Regal dan Cinemark menolak memutar film tersebut. |
| The Further Mis-Adventures of Cliff Booth dijadwalkan buka pada Rabu, 25 November. | Didukung | “when it opens on Wednesday, Nov. 25.” Deadline menyebut tanggal penayangan perdana film tersebut. |
| Penolakan Regal dan Cinemark terjadi karena jeda rilis film dipersingkat. | Didukung | “That’s because the movie, which is getting a two-week exclusive run in Imax, is on a shortened window.” Deadline menjelaskan alasan penolakan kedua jaringan bioskop. |
| Film ini mendapatkan penayangan eksklusif selama dua pekan di Imax. | Didukung | “the movie, which is getting a two-week exclusive run in Imax” Deadline mengonfirmasi penayangan eksklusif Imax selama dua pekan. |
| AMC dan bioskop independen berkomitmen menayangkan Cliff Booth yang akan tayang di Netflix pada 23 Desember dengan jendela 27 hari. | Didukung | “AMC (as well as Indies) are committing to the run of Cliff Booth which will hit Netflix on Dec. 23 in what is a 27-day exclusive theatrical window to streaming.” Deadline mencatat komitmen AMC dan bioskop independen serta tanggal rilis streaming. |
| Musim liburan bioskop diisi oleh The Hunger Games: Sunrise on the Reaping dari Lionsgate dan komedi Focker-in-Law dari Universal dengan Ariana Grande, Ben Stiller, dan Robert De Niro. | Didukung | “Lionsgate’s highly anticipated hit The Hunger Games: Sunrise on the Reaping and Universal’s Ariana Grande-Ben Stiller-Robert De Niro comedy sequel Focker-in-Law.” Deadline menyebutkan kedua film kompetitor di periode liburan tersebut. |
| Pada akhir pekan terakhir Agustus 2025, AMC menolak memutar Kpop Demon Hunters Singalong karena sudah tayang lebih dari sebulan di Netflix. | Didukung | “AMC refused to play Kpop Demon Hunters Singalong (since it had been on Netflix for a little more than a month) in the final August weekend of 2025” Deadline mencatat preseden penolakan AMC terhadap film Netflix sebelumnya. |
| Regal, Cinemark, dan jaringan lain menayangkan Kpop Demon Hunters Singalong dan menghasilkan pendapatan pembukaan 19 juta dolar AS di posisi nomor satu. | Didukung | “Regal, Cinemark and other chains did book it, delivering the streamer their first No. 1 movie at the weekend box office with $19M.” Deadline merinci hasil box office Kpop Demon Hunters Singalong di bioskop pesaing. |
| Netflix memberikan jendela rilis bioskop lebih panjang untuk film pemenang Cannes La Bola Negra. | Didukung | “recent successful platform of Cannes winner and this year’s awards contender, La Bola Negra” Deadline menyebut La Bola Negra sebagai contoh uji coba jendela tayang bioskop oleh Netflix. |
| Film Narnia: The Magician's Nephew karya Greta Gerwig mendapat jendela 50 hari pada Februari dan Charlie Vs The Chocolate Factory mendapat 47 hari pada liburan mendatang. | Didukung | “Greta Gerwig’s February release, Narnia: The Magician’s Nephew (50 days to streaming) and next holiday season’s Charlie Vs The Chocolate Factory (47-days to streaming).” Deadline membeberkan rencana jendela tayang bioskop kedua film tersebut. |
| Netflix meyakini hanya film keluarga yang layak mendapatkan jendela penayangan bioskop yang lebih panjang. | Didukung | “Netflix believes that only family films are the worthy titles for longer windows in cinemas.” Deadline mengatribusikan pandangan internal Netflix terhadap alokasi jendela rilis film keluarga. |
| Knives Out: Wake Up Dead Man hanya diberi jendela 17 hari, ditolak tiga jaringan bioskop terbesar, dan hanya meraup 4 juta dolar AS domestik. | Didukung | “Knives Out: Wake Up Dead Man a 17-day theatrical window. The top three circuits balked at playing it and the movie fizzled with a $4M domestic take.” Deadline membeberkan hasil box office Wake Up Dead Man. |
| Glass Onion memperoleh jendela rilis 30 hari dan meraup 13,3 juta dolar AS dari 696 bioskop selama periode Thanksgiving 2022. | Didukung | “30-day window that Netflix gave Johnson’s Knives Out: Glass Onion which did substantially better in its limited release over the 5-day Thanksgiving 2022 frame ($13.3M at 696 theaters” Deadline membandingkan capaian Glass Onion dengan film penerusnya. |
| Film orisinal Knives Out meraup 41,4 juta dolar AS pada pembukaan Thanksgiving 2019 serta total 165,3 juta dolar AS domestik dan 312,8 juta dolar AS global sebelum Rian Johnson menjual hak sekuelnya seharga 400 juta dolar AS. | Didukung | “first movie, launched by Lionsgate was a great success over Thanksgiving 2019 with a $41.4M 5-day opening and final domestic of $165.3M domestically and global of $312.8M.” Deadline membeberkan riwayat pendapatan film pertama dan nilai kesepakatan Netflix. |
| Once Upon a Time in Hollywood meraih pembukaan domestik 41 juta dolar AS, total global 409,3 juta dolar AS, dan menghantarkan Brad Pitt memenangkan piala Oscar. | Didukung | “The original, which delivered Pitt a Supporting Actor Oscar win, bowed to the director’s highest stateside ($41M) and went on to make $142.5M domestic, and $409.3M WW.” Deadline mencatat data box office film pendahulu dan penghargaan Brad Pitt. |
Video AI terbaru
NVIDIA GTC Berlin 2026 Event Highlights: AI in Action Across Europe