Survei MIT: Hanya 16 Persen Perusahaan Raih Manfaat Besar dari AI
Banyak kantor sudah memakai kecerdasan buatan, tetapi sebagian besar belum balik modal. Ketiadaan pemahaman bisnis jadi pemicu utama kegagalan.
Ilustrasi: liput24
Poin penting
- Survei MIT Technology Review Insights mencatat hanya 16 persen perusahaan meraih hasil besar dari AI.
- Sebanyak 23 persen organisasi justru mengaku memperoleh imbal hasil minim atau tidak ada sama sekali.
- Ahli menilai AI gagal paham bisnis karena tidak memiliki lapisan konteks data perusahaan.
Banyak pimpinan kantor sudah membeli program kecerdasan buatan. Namun, biaya langganan itu sering kali tidak sebanding dengan hasilnya.
Jajak pendapat terbaru dari MIT Technology Review Insights mengungkap fakta ini. Semua kantor yang disurvei memang sudah memakai teknologi AI.
Meski begitu, hanya 16 persen perusahaan yang memetik nilai perubahan besar. Sisanya masih kesulitan memetik untung dari modal mereka.
Sebanyak 40 persen responden hanya melihat sedikit kemajuan pada tugas tertentu. Sementara itu, 21 persen mengaku mendapat kenaikan hasil yang cukup bermakna.
Kondisi terburuk dialami oleh 23 persen responden lainnya. Kelompok ini mengaku mendapat imbal hasil sangat minim atau bahkan nihil.
Sebagian Besar Kantor Masih Tahap Uji Coba
Banyak organisasi ternyata belum berani melepas sistem pintar ini secara mandiri. Sebanyak 38 persen perusahaan masih sekadar menguji coba penggunaannya.
Selain itu, 35 persen kantor hanya memakai AI sebagai asisten obrolan. Pegawai memakainya untuk membantu tugas mengetik atau mencari ide cepat.
Agen pintar otonom yang bekerja otomatis penuh masih sangat langka. Hanya 12 persen kantor yang sudah mengoperasikan agen mandiri dalam kegiatan operasional.
Angka pemakaian mandiri pada pekerjaan penting bahkan jauh lebih kecil. Hanya tiga persen responden yang menyerahkan proses utama bisnis mereka ke AI.
Masalah Pemahaman Bisnis pada Mesin
Mesin pintar sering kali salah langkah saat masuk ke alur kerja nyata. Jawaban yang keluar bisa keliru atau tidak sesuai aturan perusahaan.
Prukalpa Sankar, salah satu pendiri perusahaan data Atlan, menyoroti kendala ini. Menurut dia, kemampuan model cerdas saat ini belum sejalan dengan kegunaan lapangan.
"Ada jurang pemisah besar antara kemampuan model dan manfaat nyatanya di dalam organisasi," kata Prukalpa Sankar, Co-founder Atlan.
Sankar menyebut masalah ini terjadi karena mesin kehilangan lapisan konteks. Lapisan ini adalah jembatan penghubung antara data internal kantor dan sistem AI.
Infrastruktur tersebut menerjemahkan data mentah kantor menjadi bahasa yang aman bagi mesin. Tanpa perantara ini, perangkat pintar bekerja tanpa memahami situasi kantor.
"Tanpa lapisan konteks, Anda seperti mempekerjakan anak magang terpintar di dunia, lalu menutup matanya dan melemparnya ke dalam perusahaan," kata Prukalpa Sankar, Co-founder Atlan.
Akibatnya, alat yang canggih sekalipun tetap menghasilkan keputusan ngawur. Biaya komputasi dan langganan pun keluar sia-sia tanpa hasil yang nyata.
Apa Artinya bagi Pelaku Usaha
Temuan ini menjadi peringatan keras bagi para pemilik usaha di tanah air. Jangan terburu-buru memborong aplikasi pintar hanya karena sedang populer di pasar.
Masalah terbesar otomasi bukan pada kecerdasan model yang Anda sewa. Kegagalan biasanya bersumber dari data operasional kantor yang masih berantakan.
Sebelum membeli peranti lunak baru, rapikan dulu catatan kerja dan sistem data internal. Mesin canggih tetap butuh panduan jelas tentang aturan kerja di kantor Anda.
Pemimpin usaha perlu memastikan integrasi data berjalan sebelum mengejar efisiensi biaya. Tanpa pemahaman bisnis yang kuat, proyek digital Anda hanya akan membakar anggaran.
- MIT Technology Review: Creating AI value with enterprise context
Lihat hasil pemeriksaan (11 klaim)
| Klaim | Putusan | Dasar di sumber |
|---|---|---|
| Survei MIT Technology Review Insights menemukan hanya 16 persen perusahaan yang mengekstrak nilai transformatif/besar dari penerapan AI. | Didukung | “fewer than one in five (16%) are extracting transformative value from their deployments.” MIT Technology Review menyatakan hanya 16% organisasi yang memperoleh nilai transformatif dari AI. |
| Semua organisasi yang disurvei saat ini telah menggunakan AI dalam tingkat tertentu. | Didukung | “while every organization surveyed is using AI today to some degree” MIT Technology Review mengonfirmasi seluruh organisasi yang disurvei sudah memakai AI. |
| Sebanyak 40 persen responden melihat perolehan moderat pada tugas atau tim tertentu. | Didukung | “The largest percentage of respondents (40%) say they are seeing moderate gains in specific tasks or teams” MIT Technology Review melaporkan 40% responden melihat peningkatan moderat. |
| Sebanyak 21 persen responden melaporkan perolehan yang bermakna. | Didukung | “while 21% report meaningful gains” MIT Technology Review mencatat 21% responden memperoleh hasil yang bermakna. |
| Sebanyak 23 persen responden melihat imbal hasil minimal atau tidak ada sama sekali. | Didukung | “leaving 23% that are seeing minimal returns or none at all.” MIT Technology Review mencatat 23% melihat hasil minimal atau nihil. |
| Sebanyak 38 persen responden masih dalam tahap uji coba (piloting) penggunaan AI. | Didukung | “Companies are mostly still piloting AI use cases (according to 38% of respondents)” MIT Technology Review menyebutkan 38% perusahaan masih melakukan uji coba. |
| Sebanyak 35 persen responden menggunakan AI untuk membantu staf melalui co-pilot atau asisten obrolan. | Didukung | “using it to assist employees’ work with tools like co-pilots or chat assistants (35%).” MIT Technology Review mencatat 35% memanfaatkan AI sebagai co-pilot atau asisten kerja. |
| Hanya 12 persen perusahaan yang memiliki agen AI dalam tahap produksi. | Didukung | “Just 12% of enterprises have AI agents in production” MIT Technology Review melaporkan 12% perusahaan sudah menerapkan agen AI di tahap produksi. |
| Hanya 3 persen responden yang menggunakan AI untuk melakukan sebagian besar pekerjaan pada proses utama bisnis. | Didukung | “3% say they are using AI to do most of the work in key processes.” MIT Technology Review menyatakan hanya 3% yang menyerahkan sebagian besar pekerjaan proses kunci ke AI. |
| Prukalpa Sankar adalah co-founder Atlan yang menyatakan ada jurang pemisah besar antara kapabilitas model dan manfaat nyatanya di dalam organisasi. | Didukung | ““There’s a big gap between what the models are capable of and how the models are actually being useful inside organizations,” says Prukalpa Sankar, co-founder of Atlan.” MIT Technology Review memuat kutipan langsung dari Prukalpa Sankar selaku Co-founder Atlan. |
| Prukalpa Sankar mengibaratkan AI tanpa lapisan konteks seperti merekrut anak magang terpintar di dunia lalu menutup matanya dan melemparnya ke dalam perusahaan. | Didukung | ““Without a context layer for AI, it’s almost like you’re hiring the smartest intern in the world, blindfolding them, and throwing them into your organization,” Sankar says.” MIT Technology Review memuat perumpamaan Sankar mengenai AI tanpa lapisan konteks. |
Video AI terbaru
API credits, now in ChatGPT Pro and Business plans