Langsung ke isi
· Kabar AI & robotika, jernih dan terverifikasiNewsletter  ·  Majalah  ·  Kelas & Layanan
Tampilan
Pengaturan tampilan
Tema

Kabar AI yang mudah dibaca.

Pilihan tersimpan di perangkat Anda.

Langganan
Terkini
Trending

Adopsi AI Perbankan Indonesia Kalah dari ASEAN dan Tertinggal dalam Tata Kelola

Skor AI perbankan Indonesia tertinggal di bawah rata-rata ASEAN. Riset IBM dan Twimbit ungkap tata kelola perbankan nasional masih minim.

Gambar buatan AI, bukan foto asli: modern bank building lobby, ilustrasi untuk berita: Adopsi AI Perbankan Indonesia Kalah dari ASEAN dan Tertinggal dalam Tata Kelola.

Gambar buatan AI, bukan foto asli (Lucid Origin (Leonardo) via Cloudflare Workers AI)

Poin penting

  • Skor indeks kecerdasan buatan bank Indonesia berada di angka 3,82 dari 5, di bawah rata-rata kawasan ASEAN.
  • Riset IBM dan Perbanas mencatat baru 4 persen bank di tanah air yang menerapkan tata kelola formal AI.
  • Perbankan Indonesia menempati urutan keempat di Asia Tenggara di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Adopsi kecerdasan buatan di perbankan Indonesia masih tertinggal dibanding negara tetangga. Banyak bank mulai memakai teknologi pintar ini. Namun tata kelola perbankan dinilai belum siap.

Temuan tersebut terungkap dalam laporan Twimbit bertajuk The State of ASEAN Banking CX 2026. Hasil riset ini diberitakan oleh Katadata pada Rabu, 28 Oktober 2026.

Twimbit meneliti pengalaman nasabah perbankan pada 45 bank di Asia Tenggara. Objek penelitian mencakup 28 bank konvensional dan 17 bank digital.

Negara yang diteliti mencakup Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia, Filipina, dan Vietnam. Peneliti mengamati interaksi nasabah saat pembukaan rekening hingga penggunaan aplikasi perbankan.

Skor Perbankan RI Tertinggal di ASEAN

Skor indeks pengalaman kecerdasan buatan perbankan Indonesia tercatat 3,82 dari 5. Angka ini masih di bawah skor rata-rata Asia Tenggara sebesar 3,86.

Secara keseluruhan, Indonesia menempati peringkat keempat di kawasan. Posisi perbankan nasional berada di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Singapura memimpin di kawasan regional dengan skor indeks 3,99. Riset Twimbit menilai mutu adopsi ini berdasarkan empat pilar utama layanan.

Empat pilar tersebut mencakup pengalaman digital, pengalaman merek, pengalaman karyawan, serta pengalaman layanan. Kesenjangan terbesar terlihat pada aspek layanan dan karyawan.

Indonesia meraih skor pengalaman digital 3,91 dan pengalaman merek 3,86. Sementara itu, pengalaman karyawan meraih 3,75 dan pengalaman layanan hanya 3,74.

Hambatan Integrasi Data dan Tata Kelola

Senior Vice President Twimbit Shivanu Shukla menyebut kesiapan data menjadi tantangan bank konvensional. Data bank besar umumnya tersimpan di banyak sistem terpisah.

Penyatuan data lama dinilai butuh kerja keras. Sebaliknya, bank digital mengadopsi teknologi lebih cepat karena menggunakan infrastruktur komputasi awan yang terintegrasi.

Twimbit mencontohkan PT Bank Jago Tbk dalam laporan tersebut. Bank digital ini dinilai kuat menerapkan program pelatihan layanan nasabah berbasis teknologi.

Studi terpisah oleh IBM dan Perbanas menunjukkan gambaran serupa. Sekitar 88 persen perbankan Indonesia memang sudah mulai mengeksplorasi kecerdasan buatan.

Meski demikian, pemanfaatannya dinilai masih terpecah dan tanpa arsitektur terpusat. Mayoritas bank baru memakai chatbot pintar untuk menjawab pertanyaan dasar nasabah.

"Hanya 4% bank, yang mana cukup kecil, yang mengadopsi AI ke dalam fungsi tata kelola formal," kata Juvanus Tjandra, Managing Partner IBM Consulting Indonesia.

Sebanyak 12 persen perbankan bahkan belum mengeksplorasi teknologi ini sama sekali. Kesiapan tata kelola bank dinilai belum tumbuh secepat penggunaan teknologinya.

Apa Artinya bagi Pelaku Usaha

Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi para direktur dan pemilik usaha. Operasional bisnis harian sangat bergantung pada kelancaran layanan perbankan.

Integrasi sistem yang lambat bisa memperpanjang urusan administrasi usaha. Proses verifikasi dokumen, pencairan dana, dan pengajuan pinjaman modal berisiko tetap lambat.

Pelaku usaha perlu lebih cermat dalam menentukan mitra perbankan. Bank dengan sistem data modern dapat memproses kebutuhan transaksi secara lebih gesit.

Pengawasan tata kelola perbankan juga patut menjadi perhatian utama. Penerapan otomatisasi tanpa pengawasan ketat rentan memicu gangguan layanan serta kebocoran data penting perusahaan.

✓ Lolos pemeriksaan redaksi AI. Artikel ini ditulis AI, 11 klaimnya dicocokkan dengan sumber, dan diuji keterbacaannya sebelum terbit. Menemukan kekeliruan? Laporkan ke redaksi.
Sumber berita (2):
  1. Katadata: Skor Adopsi AI Perbankan RI Di Bawah Rata-Rata ASEAN, Masih Minim Tata Kelola
  2. Katadata: Riset: Adopsi AI Bank di Indonesia Kalah dari Singapura, Malaysia, dan Thailand
Lihat hasil pemeriksaan (11 klaim)
Pembuka: 7/10Kejelasan: 8/10Struktur: 8/10Manfaat: 7/10Bahasa: 8/10
KlaimPutusanDasar di sumber
Skor adopsi AI perbankan Indonesia berada di bawah rata-rata Asia Tenggara dan tata kelola masih minim.Didukung“skor adopsi kecerdasan buatan ( AI ) perbankan Indonesia dalam seluruh sektor atau pilar yang diteliti menunjukan skor di bawah rata-rata negara Asia Tenggara lainnya.”
Katadata (Sumber 1)
Skor indeks adopsi AI perbankan Indonesia mencapai 3,82 dari 5, di bawah rata-rata Asia Tenggara sebesar 3,86.Didukung“Keseluruhan skor indeks adopsi AI Indonesia sendiri mencapai 3,82 dari 5, yang juga di bawah rata-rata skor Asia Tenggara yang sebesar 3,86.”
Katadata (Sumber 1)
Riset IBM dan Perbanas mencatat hanya 4 persen bank di Indonesia yang mengadopsi AI ke dalam fungsi tata kelola formal.Didukung““Hanya 4% bank, yang mana cukup kecil, yang mengadopsi AI ke dalam fungsi tata kelola formal,” kata Managing Partner IBM Consulting Indonesia Juvanus Tjandra”
Katadata (Sumber 1)
Adopsi AI perbankan Indonesia menempati peringkat keempat di Asia Tenggara di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand.Didukung“adopsi AI pada perbankan Indonesia menempati urutan ke-4 setelah Singapura, Malaysia, dan Thailand.”
Katadata (Sumber 2)
Laporan Twimbit The State of ASEAN Banking CX 2026 meneliti 45 bank yang terdiri dari 28 bank konvensional dan 17 bank digital di enam negara.Didukung“Laporan Twimbit ini meneliti pengalaman nasabah dalam menggunakan layanan kecerdasan buatan (AI) perbankan di 45 bank yang tersebar di Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia, Filipina, dan Vietnam.”
Katadata (Sumber 1)
Singapura memimpin adopsi AI dan digitalisasi perbankan dengan skor indeks 3,99.Didukung“Sedangkan perbankan Singapura memimpin digitalisasi dan adopsi AI dengan keseluruhan skor indeks mencapai 3,99.”
Katadata (Sumber 2)
Empat pilar indeks CX mencakup pengalaman digital, pengalaman layanan, pengalaman brand, dan pengalaman karyawan, dengan skor Indonesia masing-masing 3,91; 3,74; 3,86; dan 3,75.Didukung“pengalaman layanan nasabah Indonesia mendapat skor 3,74 dari 5, pengalaman karyawan 3,75 dari 5, pengalaman digital 3,91 dari 5, dan pengalaman brand 3,86 dari 5.”
Katadata (Sumber 1)
Kesenjangan terbesar perbankan Indonesia di ASEAN terlihat pada aspek pengalaman layanan dan pengalaman karyawan.Didukung“dengan kesenjangan terbesar terlihat pada aspek pengalaman layanan dan pengalaman karyawan,” tulis laporan tersebut.”
Katadata (Sumber 1)
Kesiapan data menjadi tantangan bank konvensional karena data tersimpan di banyak sistem berbeda, sementara bank digital lebih cepat karena sistem terintegrasi dan cloud ready.Didukung“Di bank-bank besar, data-data mereka yang jumlahnya banyak, tersimpan di banyak sistem berbeda. Jadi untuk mengintegrasikannya dan mempersiapkannya agar AI ready seringkali jadi tantangan besar”
Katadata (Sumber 2)
PT Bank Jago Tbk dinilai kuat membangun rangkaian pengalaman digital dan pelatihan pelayanan nasabah berbasis AI.Didukung““Rangkaian pengalaman digital (menggunakan AI) yang dibangun Bank Jago sangat kuat,” kata Shivanu Shukla.”
Katadata (Sumber 2)
Sebanyak 88 persen perbankan Indonesia sudah mengeksplorasi AI, sedangkan 12 persen sisanya belum mengeksplorasi sama sekali.Didukung“studi oleh IBM dan Perbanas juga menunjukkan bahwa setidaknya 88% perbankan Indonesia sudah mengeksplorasi AI. Sedangkan 12% sisanya belum mengeksplorasi AI sama sekali.”
Katadata (Sumber 1)

Video AI terbaru

API credits, now in ChatGPT Pro and Business plans OpenAI

Baca juga