Netflix dan Disney+ Gencar Borong Konten Non-Inggris dari Asia
Riset Ampere Analysis mencatat porsi tayangan non-Inggris di Netflix capai 65 persen. Disney+ turut memborong konten asing hingga separuh dari total akuisisi.
Ilustrasi: liput24
Poin penting
- Sebanyak 65 persen konten akuisisi Netflix kini bukan berasal dari bahasa Inggris.
- Konten non-Inggris kini menyumbang 50 persen dari total akuisisi Disney+.
- Tayangan Jepang dan Korea Selatan menjadi buruan utama platform siaran dunia.
Layanan siaran video global makin gencar memborong tayangan non-Inggris. Konten asing kini menyumbang separuh atau lebih dari total akuisisi Disney+ dan Netflix. Fakta ini mematahkan anggapan lama bahwa konten luar negeri sepi peminat.
Temuan tersebut dilaporkan oleh media Deadline dari hasil riset Ampere Analysis. Lembaga riset itu memantau perubahan strategi akuisisi platform hiburan dunia. Mereka melihat minat pemirsa terhadap serial lintas negara terus menanjak.
Hingga September, sebanyak 65 persen konten akuisisi Netflix bukan berbahasa Inggris. Angka konten non-Inggris di Disney+ juga telah menyentuh 50 persen. Kedua raksasa siaran video ini bersaing ketat menambah variasi tayangan.
Jepang dan Korea Selatan menjadi sumber utama konten akuisisi Netflix. Sementara itu, Disney+ paling banyak mengambil tayangan asal Jerman dan Jepang. Pilihan negara ini disesuaikan dengan selera penonton pada tiap platform.
Pasar Potensial yang Belum Tergarap
Ampere Analysis mencatat empat bahasa dengan peluang akuisisi terbesar ke depan. Keempat bahasa itu mencakup bahasa Jepang, Prancis, Korea Selatan, dan Turki. Peluang bisnis terbuka karena ekspor tayangan tersebut masih terhitung minim.
Keempat negara memiliki permintaan penonton yang sangat tinggi di pasar dunia. Namun, volume ekspor karya mereka saat ini masih relatif rendah. Celah pasokan ini menjadi peluang besar bagi pengelola platform siaran digital.
Saat ini baru 40 persen konten siaran Jepang yang beredar secara global. Pembeli terbesar konten Jepang yang tersedia adalah Amerika Serikat dan Korea Selatan. Pasar Prancis dan Jerman juga menunjukkan ketertarikan yang relatif tinggi.
Kondisi serupa dialami oleh industri konten asal Korea Selatan. Sekitar 45 persen judul tayangan di sana hanya beredar di layanan lokal. Banyak film dan serial populer belum sempat diekspor ke luar negeri.
Kawasan Timur Tengah dan Asia Tenggara kemungkinan besar paling berminat membeli tayangan bertema romantis asal Korea Selatan. Cerita cinta produksi negara itu memiliki daya tarik kuat bagi penonton di dua wilayah tersebut.
Pemain siaran lain seperti Amazon Prime Video dan HBO Max ikut memperluas lisensi. Kedua platform itu semakin rajin menambah koleksi film non-Inggris di berbagai wilayah. Persaingan merebut hak tayang internasional pun menjadi makin ketat.
"Konten non-Inggris masih kurang dimanfaatkan meski permintaan global terus tumbuh," kata Tingting Li, Research Manager di Ampere.
Tingting Li menjelaskan bahwa pembelian lisensi ini mampu menjembatani jarak dengan penonton. Kerja sama tersebut membantu pemilik konten memperluas jangkauan distribusi. Pengelola platform juga bisa memenuhi selera tontonan masyarakat dunia secara cepat.
Apa Artinya bagi Pelaku Usaha
Perubahan pola konsumsi ini memberi sinyal penting bagi para pimpinan perusahaan. Minat audiens global terbukti tidak lagi terpaku pada karya berbahasa Inggris. Cerita lokal dengan karakter budaya yang unik semakin diminati pasar dunia.
Pelaku usaha di sektor media perlu melihat tren ini sebagai peluang ekspansi. Pembuat konten kreatif tidak harus membatasi target penjualan hanya di pasar domestik. Penjualan lisensi ke platform internasional bisa menjadi sumber pendapatan baru.
Kemitraan lisensi lintas negara juga menekan risiko biaya pemasaran di pasar baru. Platform siaran digital yang menanggung beban distribusi kepada pemirsa global. Hal ini membuat penetrasi pasar luar negeri jauh lebih hemat dan terukur.
Kawasan Asia Tenggara kini terbukti menjadi pasar konsumen hiburan yang sangat potensial. Pelaku bisnis dapat membidik segmen konsumen yang gemar menikmati hiburan lintas budaya. Kecepatan merespons tren konsumsi digital akan memperkuat daya saing usaha.
- Deadline: Disney+ & Netflix Hoover Up Non-English Acquisitions As Fervor For Japanese & Korean Content Continues – Ampere
Lihat hasil pemeriksaan (9 klaim)
| Klaim | Putusan | Dasar di sumber |
|---|---|---|
| Konten non-Inggris menyumbang sedikitnya separuh dari total akuisisi Disney+ dan Netflix. | Didukung | “non-English content now accounts for at least half of acquisitions at both global streamers.” Deadline melaporkan data riset Ampere Analysis. |
| Per September, konten non-Inggris menyumbang 65% akuisisi Netflix dan 50% di Disney+. | Didukung | “As of September, non-English content accounted for 65% of Netflix acquisitions, with the figure at Disney+ hitting 50%.” Deadline mencantumkan rincian persentase akuisisi kedua platform per September. |
| Jepang dan Korea Selatan menjadi sumber utama akuisisi konten Netflix, sedangkan konten Jerman dan Jepang memuncaki daftar akuisisi Disney+. | Didukung | “Japan and Korea were the leading source for Netflix acquisitions, with German and Japanese content topping Disney+’s list.” Deadline menguraikan negara asal konten terbanyak yang diakuisisi kedua layanan. |
| Ampere mengidentifikasi konten Jepang, Prancis, Korea Selatan, dan Turki sebagai peluang akuisisi terbesar jika mempertimbangkan permintaan tinggi dan volume ekspor yang relatif rendah. | Didukung | “identified Japanese, French, South Korean and Turkish as the biggest acquisition opportunities moving forwards if high demand and relatively low export volume was considered.” Deadline memaparkan empat bahasa dengan potensi akuisisi tertinggi menurut riset Ampere. |
| Hanya 40 persen konten streaming Jepang yang tersedia di seluruh dunia, dengan AS dan Korea Selatan sebagai pembeli terbesar. | Didukung | “Just 40% of Japanese streaming content is available worldwide, with the U.S. and South Korea the biggest buyers of what can be bought” Deadline mencantumkan persentase ketersediaan global konten siaran Jepang beserta pembeli utamanya. |
| Prancis dan Jerman menunjukkan minat yang relatif tinggi terhadap konten Jepang. | Didukung | “though France and Germany also show relatively high interest.” Deadline menyebut Prancis dan Jerman memiliki minat cukup tinggi terhadap konten Jepang. |
| Hanya 45 persen tayangan Korea Selatan yang tersedia di platform streaming dalam negerinya sendiri. | Didukung | “only 45% of the country’s titles are available only on its own streaming services.” Deadline mencatat keterbatasan peredaran konten Korea Selatan di platform domestik. |
| Timur Tengah dan Asia Tenggara kemungkinan besar paling meminati film dan serial Korea bertema romantis. | Didukung | “The Middle East and Southeast Asia appear most likely to bite on its romantic-themed films and shows, Ampere claimed.” Deadline mengutip analisis Ampere tentang kawasan peminat konten romantis Korea. |
| Amazon Prime Video, HBO Max, dan Disney+ memperluas lisensi judul non-Inggris di berbagai pasar dalam beberapa tahun terakhir. | Didukung | “In recent years, Amazon Prime Video, HBO Max and Disney+ have increasingly expanded non-English-language title licensing in multiple markets” Deadline mengutip pernyataan Tingting Li mengenai ekspansi lisensi platform global. |
Video AI terbaru
API credits, now in ChatGPT Pro and Business plans