Langsung ke isi
· Kabar AI & robotika, jernih dan terverifikasiNewsletter  ·  Majalah  ·  Kelas & Layanan
Tampilan
Pengaturan tampilan
Tema

Kabar AI yang mudah dibaca.

Pilihan tersimpan di perangkat Anda.

Langganan
Terkini
Trending

Sam Altman Dorong Gen Z Manfaatkan AI untuk Karier dan Bisnis

Bos OpenAI Sam Altman menilai kecerdasan buatan akan mengambil alih banyak tugas kerja, namun membuka peluang besar bagi generasi muda.

Ilustrasi: liput24

Poin penting

  • Sam Altman menyebut banyak tugas kini lebih cepat dan murah jika dikerjakan AI.
  • Gen Z diminta berani memulai karier di tengah perubahan besar teknologi.
  • Beberapa pelaku industri mulai bosan dengan penggunaan AI yang berlebihan.

Pasar tenaga kerja sedang berubah drastis karena kehadiran kecerdasan buatan. CEO OpenAI Sam Altman menyatakan bahwa teknologi ini akan menggantikan banyak pekerjaan rutin manusia.

Laporan media Futurism mengutip pernyataan Altman di Sekolah Bisnis Stanford. Altman berbicara tentang nasib generasi muda yang kini mulai masuk dunia kerja.

"Banyak sekali tugas manusia yang akan diselesaikan lebih baik, lebih murah, dan lebih cepat oleh AI," kata Sam Altman, CEO OpenAI.

Meski begitu, Altman menganggap kondisi ini sebagai peluang emas. Menurutnya, masa penuh perubahan justru waktu terbaik untuk memulai karier baru.

Ia mendorong anak muda untuk berani merintis usaha sendiri. Anak muda yang mau memakai AI dinilai bisa melesat lebih cepat.

Kritik Altman terhadap Pola Pikir Lama

Altman juga melontarkan kritik kepada para mahasiswa program magister bisnis. Ia mengaku sering kecewa melihat minat mereka.

Menurut Altman, para mahasiswa kerap mengejar tren yang populer lima tahun lalu. Padahal, dunia bisnis sudah bergerak sangat cepat ke arah berbeda.

Ia meminta para lulusan muda fokus pada hal-hal baru. AI dinilai menjadi alat utama yang harus dikuasai hari ini.

Namun, antusiasme terhadap AI mulai menghadapi tantangan nyata. Publik dan kalangan kreatif mulai memandang sinis penggunaan teknologi ini secara serampangan.

Penerapan AI dan Kejenuhan di Industri

Perusahaan memang bergerak cepat mengadopsi berbagai alat bantu berbasis kecerdasan buatan. Tujuannya adalah memangkas biaya operasional harian.

Banyak kantor memakai AI untuk mengotomatisasi tugas berulang. Sebagian manajemen bahkan menggunakannya untuk memantau kinerja staf dan merampingkan tim.

Di bidang teknologi, hampir semua pemrogram kini menggunakan bantuan AI. Calon pekerja pun sekarang kerap diwawancarai oleh sistem otomasi.

Kondisi ini ternyata memicu rasa jenuh di kalangan investor senior. Paul Graham, pendiri inkubator startup Y Combinator, mulai mengeluhkan hal tersebut.

Graham menganggap pemakaian tulisan buatan AI pada proposal usaha sebagai tanda kemalasan pendiri startup.

Apa Artinya bagi Pelaku Usaha

Kecerdasan buatan kini bukan lagi sekadar alat coba-coba di divisi teknologi. Para pimpinan perusahaan perlu meninjau kembali cara kerja tim mereka.

Tugas administratif yang memakan waktu lama kini bisa dipangkas biayanya. Namun, pimpinan tidak boleh menelan mentah-mentah semua hasil buatan mesin.

Ketergantungan buta pada AI justru bisa menurunkan mutu layanan bisnis Anda. Klien tetap mencari keaslian gagasan dan sentuhan manusia yang nyata.

Bagi pengusaha di Indonesia, tantangannya adalah melatih staf agar lebih produktif. Gunakan AI untuk mempercepat kerja, bukan untuk menggantikan proses berpikir kritis.

✓ Lolos pemeriksaan redaksi AI. Artikel ini ditulis AI, 8 klaimnya dicocokkan dengan sumber, dan diuji keterbacaannya sebelum terbit. Menemukan kekeliruan? Laporkan ke redaksi.
Sumber berita (1):
  1. Futurism: Sam Altman Says Gen Z Are Lame for Not Worshipping AI
Lihat hasil pemeriksaan (8 klaim)
Pembuka: 8/10Kejelasan: 8/10Struktur: 8/10Manfaat: 7/10Bahasa: 8/10
KlaimPutusanDasar di sumber
Sam Altman menyatakan bahwa kecerdasan buatan akan menyelesaikan banyak tugas dengan lebih baik, murah, dan cepat dibandingkan manusia.Didukung“huge numbers of tasks that people do today will be done better, cheaper, and faster by AI”
Futurism mengutip pernyataan Sam Altman dalam wawancara di Stanford Graduate School of Business.
Sam Altman menilai perubahan akibat AI menjadi peluang bagi Gen Z untuk melesatkan karier atau mendirikan bisnis.Didukung“gives ambitious Gen Zers who are willing to embrace AI an opportunity to catapult their careers or launch a business.”
Futurism melaporkan argumen Altman mengenai peluang bagi Gen Z yang bersedia memanfaatkan AI.
Altman menyatakan bahwa masa perubahan besar adalah waktu yang tepat untuk memulai karier.Didukung“I think you want to be starting your career at a time of the highest degree of change”
Futurism mencantumkan kutipan langsung Sam Altman.
Altman mengaku kecewa terhadap mahasiswa MBA yang selalu ingin melakukan hal yang populer lima tahun lalu daripada hal baru.Didukung“My chronic disappointment with MBA students is that they always want to go do the thing that was cool five years ago and not do the new thing”
Futurism mengutip kritik Altman terhadap mahasiswa program MBA.
Opini publik memburuk serta seniman dan pembuat tren tidak merangkul AI.Didukung“public opinion on AI quickly began to sour. Artists and tastemakers certainly didn’t embrace it.”
Futurism memaparkan reaksi publik dan komunitas kreatif terhadap AI pasca-2022.
Bisnis mengintegrasikan AI untuk menghemat operasional, mengotomatisasi tugas, mengawasi pekerja, dan menjustifikasi PHK.Didukung“businesses rapidly integrated AI tools in an effort to economize their operations, automate tasks , surveil workers , and justify layoffs .”
Futurism menjelaskan alasan korporasi cepat mengadopsi AI.
Hampir semua pemrogram menggunakan AI saat bekerja dan pencari kerja diwawancarai oleh model AI.Didukung“Basically every programmer uses AI at work. Jobseekers are interviewed by AI models.”
Futurism menguraikan penetrasi AI dalam pekerjaan pemrogram dan proses rekrutmen.
Paul Graham, salah satu pendiri akselerator Y Combinator, menganggap tulisan AI dalam proposal (pitches) sebagai tanda kemalasan.Didukung“Paul Graham, the cofounder of startup accelerator Y Combinator, acted as a weathervane when he said that he views AI writing in the pitches he receives as a sign of laziness.”
Futurism memaparkan pandangan Paul Graham mengenai penggunaan teks AI pada proposal bisnis.

Video AI terbaru

NVIDIA GTC Berlin 2026 Event Highlights: AI in Action Across Europe NVIDIA

Baca juga