Serangan Siber Berbasis AI Meningkat, Semua Sektor Kini Jadi Sasaran
Kecerdasan buatan menekan biaya dan mempermudah serangan digital. Pakar keamanan mengingatkan ancaman siber kini menyasar seluruh lini usaha.
Ilustrasi: liput24
Poin penting
- Kecerdasan buatan memangkas biaya peretasan dan memperluas target serangan digital.
- Pelaku pemula kini dapat membuat email palsu dan tiruan suara secara meyakinkan.
- Perusahaan perlu menunjuk pimpinan keamanan khusus dan melatih seluruh karyawan.
Teknologi kecerdasan buatan kini mengubah peta ancaman keamanan digital. Serangan siber menjadi jauh lebih murah dan cepat menjangkau sasaran luas.
Ancaman digital tidak lagi hanya mengincar bank besar atau lembaga pemerintah. Kini, rumah sakit hingga kantor dinas daerah ikut terancam kejahatan ini.
Peringatan tersebut disampaikan oleh Howon Kim, Presiden Korea Institute of Information Security and Cryptology. Hal itu ia sampaikan dalam laporan media CNN Indonesia.
Dahulu, peretasan membutuhkan tenaga ahli dengan keahlian khusus. Pelaksanaan serangan juga membutuhkan waktu serta biaya yang besar.
Kini, situasi telah berbalik total. Orang dengan kemampuan teknis rendah bisa meluncurkan serangan berbahaya memakai bantuan AI.
"AI juga dapat meniru suara atau wajah seseorang dalam hitungan menit, menemukan celah keamanan, bahkan menulis kode serangan. Akibatnya, serangan menjadi lebih murah, cepat, dan berskala jauh lebih besar," kata Howon Kim, Presiden Korea Institute of Information Security and Cryptology.
Modus Serangan dan Lemahnya Garis Depan
Pemula kini dapat menyusun email phishing atau surat elektronik jebakan yang sangat rapi. Surat tipuan itu tersaji tanpa kesalahan ejaan bahasa.
Selain teks, teknologi deepfake dapat meniru suara pimpinan kantor. Suara tiruan itu digunakan untuk menipu staf lewat panggilan telepon.
Peretas tidak perlu merusak sistem proteksi utama yang canggih. Mereka hanya menunggu satu karyawan lengah mengeklik tautan berbahaya di komputer.
Kim mencontohkan kondisi di Indonesia saat berkunjung ke Badan Siber dan Sandi Negara. Lembaga negara itu sempat melaporkan sekitar tiga miliar anomali lalu lintas data.
Sebagian besar kejanggalan jalur data tersebut berkaitan erat dengan malware atau program perusak. AI juga sanggup mencari celah keamanan secara otomatis.
Dosen Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada, Dedy Permadi, membagikan pandangannya. Menurut Dedy, tingkat kesiapan menghadapi ancaman berbeda pada setiap sektor usaha.
"Sektor perbankan memiliki sistem keamanan siber yang kuat, tetapi pada saat bersamaan juga rentan karena berbagai jenis serangan biasanya menyasar sektor keuangan. Sementara itu, sektor yang cenderung tertinggal adalah sektor publik karena biasanya lebih lambat menerapkan mekanisme pengamanan," ucap Dedy Permadi, Dosen Hubungan Internasional UGM.
Sebagai langkah pencegahan, Kim memaparkan langkah yang berlaku di Korea Selatan. Kantor perlu mengangkat Chief Information Security Officer atau pejabat kepala keamanan informasi.
Jika kebocoran data terjadi akibat kelalaian, manajemen perusahaan dapat menerima sanksi hukum. Hal ini mendorong pimpinan menjaga sistem secara sungguh-sungguh.
Perusahaan juga perlu menggelar simulasi serangan berkala bagi seluruh karyawan. Layanan daring besar di Korea Selatan diwajibkan mengantongi sertifikasi mutu keamanan bernama ISMS.
Selain itu, Kim menyarankan pemanfaatan data sintetis atau data buatan tiruan. Data buatan ini menguji sistem AI tanpa harus membongkar privasi data asli.
Apa Artinya bagi Pelaku Usaha
Kondisi ini menandakan bahwa sistem keamanan bukan lagi urusan bagian teknologi informasi saja. Satu klik salah dari staf bagian bawah bisa melumpuhkan seluruh operasional kantor.
Para pimpinan usaha perlu melatih kewaspadaan seluruh pekerja secara rutin. Kebiasaan memverifikasi panggilan penting dan tautan mencurigakan harus menjadi aturan kerja baku.
Kecerdasan buatan memang mempermudah pekerjaan sehari-hari kantor. Namun, tanpa pembagian wewenang yang rapi dan penjagaan ketat, pintu kantor Anda terbuka lebar bagi penjahat siber.
- CNN Indonesia: Pakar: AI Bikin Serangan Siber Makin Cepat, Semua Sektor Terancam
Lihat hasil pemeriksaan (16 klaim)
| Klaim | Putusan | Dasar di sumber |
|---|---|---|
| Perkembangan kecerdasan buatan membuat serangan siber lebih mudah, lebih murah, dan menjangkau sasaran dalam skala lebih luas ke berbagai sektor. | Didukung | “Perkembangan kecerdasan buatan ( AI ) membuat serangan siber semakin mudah dilakukan, lebih murah, dan mampu menjangkau sasaran dalam skala lebih besar.” CNN Indonesia mengutip latar belakang fenomena ancaman siber berbasis AI. |
| Ancaman digital tidak lagi terbatas pada bank atau lembaga pemerintah, tetapi menyasar rumah sakit hingga kantor dinas daerah. | Didukung | “Ancaman ini tak lagi terbatas pada sektor perbankan atau lembaga pemerintah, tetapi juga mengincar berbagai sektor dan pekerja, termasuk rumah sakit hingga kantor pemerintahan daerah.” CNN Indonesia memaparkan perluasan cakupan sektor sasaran serangan siber. |
| Howon Kim menjabat sebagai Presiden Korea Institute of Information Security and Cryptology (KIISC). | Didukung | “Presiden Korea Institute of Information Security and Cryptology (KIISC) Howon Kim mengatakan penggunaan AI telah mengubah kemampuan pelaku serangan siber.” CNN Indonesia menyebutkan jabatan narasumber Howon Kim. |
| Sebelum pemanfaatan AI, serangan siber memerlukan peretas terampil, waktu, dan biaya besar. | Didukung | “Jika sebelumnya serangan yang efektif membutuhkan peretas terampil, waktu, dan biaya besar, kini pemula pun bisa membuat email phishing yang meyakinkan dalam berbagai bahasa tanpa kesalahan ejaan” CNN Indonesia mengutip pernyataan Howon Kim mengenai perbandingan serangan dahulu dan sekarang. |
| Teknologi AI memungkinkan individu dengan kemampuan teknis rendah meluncurkan serangan siber. | Didukung | “kini teknologi AI memungkinkan orang dengan kemampuan teknis terbatas melancarkan serangan.” CNN Indonesia menguraikan dampak kemudahan dari AI bagi penyerang pemula. |
| Howon Kim menyatakan bahwa AI dapat meniru suara atau wajah seseorang dalam hitungan menit, mencari celah keamanan, dan menulis kode serangan. | Didukung | “AI juga dapat meniru suara atau wajah seseorang dalam hitungan menit, menemukan celah keamanan, bahkan menulis kode serangan. Akibatnya, serangan menjadi lebih murah, cepat, dan berskala jauh lebih besar,” CNN Indonesia memuat kutipan langsung Howon Kim. |
| Pelaku pemula dapat membuat email phishing dalam berbagai bahasa tanpa kesalahan ejaan berkat AI. | Didukung | “kini pemula pun bisa membuat email phishing yang meyakinkan dalam berbagai bahasa tanpa kesalahan ejaan” CNN Indonesia mengutip penjelasan Howon Kim terkait kemudahan membuat email jebakan. |
| Deepfake dapat meniru suara atasan untuk mengelabui pegawai melalui panggilan telepon. | Didukung | “pegawai kantor yang mendapat telepon deepfake dengan suara menyerupai atasannya, hingga kantor pemerintah daerah yang menjadi target serangan.” CNN Indonesia mengutip contoh modus penipuan deepfake dari Howon Kim. |
| Penyerang tidak membutuhkan sistem canggih untuk menembus organisasi, melainkan hanya butuh satu orang yang mengeklik tautan berbahaya. | Didukung | “Penyerang tidak membutuhkan sistem keamanan yang sangat canggih untuk menembus organisasi. Mereka hanya membutuhkan satu orang yang mengeklik tautan berbahaya.” CNN Indonesia mengutip pernyataan Howon Kim terkait titik lemah organisasi. |
| BSSN pernah melaporkan temuan sekitar 3 miliar anomali trafik yang sebagian besar terkait dengan malware. | Didukung | “Menurutnya, BSSN pernah melaporkan sekitar 3 miliar anomali trafik, yang sebagian besar disebut berkaitan dengan malware.” CNN Indonesia mengutip penuturan Howon Kim tentang data anomali trafik BSSN. |
| AI memungkinkan pencarian celah keamanan dilakukan secara otomatis dan berskala besar. | Didukung | “Ia menambahkan perkembangan AI membuat pencarian celah keamanan dapat dilakukan secara otomatis dan dalam skala besar.” CNN Indonesia menuliskan pemaparan Howon Kim mengenai kemampuan pencarian celah oleh AI. |
| Dedy Permadi adalah Dosen Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM). | Didukung | “Dosen Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) Dedy Permadi menilai tingkat kerentanan setiap sektor berbeda, bergantung pada kemampuan masing-masing dalam menerapkan sistem pengamanan.” CNN Indonesia menyebutkan identitas dan institusi Dedy Permadi. |
| Dedy Permadi menyatakan sektor perbankan memiliki sistem keamanan kuat tetapi rentan karena sering disasar, sementara sektor publik cenderung tertinggal dalam pengamanan. | Didukung | “Sektor perbankan memiliki sistem keamanan siber yang kuat, tetapi pada saat bersamaan juga rentan karena berbagai jenis serangan biasanya menyasar sektor keuangan. Sementara itu, sektor yang cenderung tertinggal adalah sektor publik karena biasanya lebih lambat menerapkan mekanisme pengamanan,” CNN Indonesia memuat kutipan langsung Dedy Permadi. |
| Praktik di Korea Selatan mewajibkan perusahaan memiliki Chief Information Security Officer (CISO) dengan konsekuensi sanksi jika terjadi kebocoran akibat kelalaian. | Didukung | “Pertama, perusahaan perlu memiliki pemimpin khusus keamanan informasi atau CISO.Jika terjadi kebocoran serius akibat pengelolaan yang buruk, perusahaan dan pimpinannya dapat menghadapi sanksi serta pertanggungjawaban.” CNN Indonesia menguraikan langkah perlindungan pertama di Korea Selatan menurut Howon Kim. |
| Pelatihan dan simulasi phishing perlu dilakukan kepada karyawan, serta penyedia layanan daring besar di Korea Selatan diwajibkan memiliki sertifikasi ISMS. | Didukung | “Organisasi juga dapat melakukan simulasi phishing untuk menguji kesiapan pekerja menghadapi upaya penipuan digital. Ketiga, penyedia layanan daring berskala besar diwajibkan memiliki sertifikasi keamanan nasional Information Security Management System (ISMS)” CNN Indonesia mencatat poin kedua dan ketiga praktik keamanan dari Howon Kim. |
| Data sintetis dapat mengurangi kebutuhan membagikan catatan pribadi untuk melindungi privasi sekaligus membantu pengujian sistem AI menghadapi serangan siber. | Didukung | “Data sintetis dapat mengurangi kebutuhan untuk membagikan catatan pribadi sehingga privasi tetap terlindungi. Data ini juga dapat membantu pengujian elemen AI, termasuk untuk menghadapi serangan siber” CNN Indonesia memuat saran Howon Kim terkait penggunaan synthetic data. |
Video AI terbaru
ChatGPT Enterprise at Zendesk: Putting Company Data to Work