Langsung ke isi
· Kabar AI & robotika, jernih dan terverifikasiNewsletter  ·  Majalah  ·  Kelas & Layanan
Tampilan
Pengaturan tampilan
Tema

Kabar AI yang mudah dibaca.

Pilihan tersimpan di perangkat Anda.

Langganan
Terkini
Trending

Film AI Telan Biaya Rp27 Miliar di Bioskop, Rugi Besar dan Sepi Penonton

Film layar lebar buatan AI pertama di China merugi puluhan miliar rupiah. Biaya murah terbukti belum mampu memikat penonton bioskop.

Ilustrasi: liput24

Poin penting

  • Film buatan AI Sanxingdui: Future Past menelan biaya produksi Rp27,2 miliar.
  • Penjualan tiket di bioskop hanya menghasilkan pendapatan sekitar Rp3,2 miliar.
  • Penonton menilai mutu visual film kecerdasan buatan ini belum memuaskan.

Teknologi baru tidak selalu menjamin kesuksesan bisnis komersial. Eksperimen layar lebar berbasis kecerdasan buatan di China kini menjadi buktinya.

Film berjudul Sanxingdui: Future Past mengalami kegagalan besar di pasaran. Laporan CNBC Indonesia menyebutkan film ini sepi peminat di bioskop.

Padahal, film tersebut tayang perdana di lebih dari 10.000 layar bioskop. Karya ini dibuat sepenuhnya menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau AI.

Biaya Produksi Murah Berujung Kerugian

Rumah produksi Bona Film Group mengeluarkan biaya US$1,5 juta. Nilai itu setara dengan Rp27,2 miliar untuk proyek ini.

Angka ini jauh lebih murah daripada film Hollywood biasa. Biaya film blockbuster Barat biasanya menembus US$100 juta.

Namun efisiensi biaya itu gagal mendatangkan keuntungan tiket. Film ini hanya mengantongi pendapatan US$181 ribu atau Rp3,2 miliar.

Hasil penjualan tiket itu sangat jauh dari biaya pembuatannya. Kerugian besar pun tidak dapat dihindari oleh pihak studio.

Ujian Pertama Sang Pelopor Layar Lebar

Proyek film ini melibatkan hampir 100 orang pekerja kreatif. Mereka membutuhkan waktu dua tahun penuh untuk menyelesaikan produksinya.

Ceritanya mengangkat tema tentang masa depan bumi. Sistem kecerdasan buatan mengendalikan dunia sampai situasi berubah menjadi sangat kacau.

Eksekutif Bona Film Group, Jiang Defu, buka suara soal hasil buruk ini. Menurutnya, menjadi pionir film bioskop berbasis AI sangat berat.

"Kami menjadi yang pertama mencobanya, yang pertama mendapatkan izin rilis teater, dan diuji langsung oleh penonton. Saya pikir hal itu sama sekali tidak mudah," kata Jiang Defu, Eksekutif Bona Film Group.

Laporan kantor berita AFP mengungkapkan tanggapan dari sejumlah penonton. Mereka merasa kualitas tayangan ini masih kurang memuaskan.

Penonton membandingkan mutu visualnya dengan karya murni buatan manusia. Menurut mereka, tiket film AI baru layak dibeli pada masa depan.

Penolakan terhadap konten visual buatan komputer bukan hal baru. Beberapa proyek hiburan sebelumnya juga menerima gelombang kritik tajam.

Film Animals karya sutradara Ben Affleck di Netflix sempat dikritik. Proyek tersebut menuai sorotan akibat pemakaian elemen berbasis kecerdasan buatan.

Serial Secret Invasion pada tahun 2023 juga mengalami nasib serupa. Adegan pembuka serial itu banjir kecaman karena memakai AI generatif.

Apa Artinya bagi Pelaku Usaha

Kasus ini memberi pelajaran penting bagi para pemimpin perusahaan. Pemangkasan anggaran produksi lewat otomasi tidak otomatis menghasilkan keuntungan pasar.

Pelaku usaha di Indonesia perlu berhati-hati saat menjual produk AI. Konsumen tetap menuntut standar mutu tinggi sebelum bersedia membayar.

Efisiensi alat canggih menjadi sia-sia jika hasil akhirnya ditolak pembeli. Validasi selera konsumen harus tetap berjalan sebelum merilis produk skala besar.

Teknologi sebaiknya difungsikan sebagai alat bantu kerja tim internal. Menggantikan seluruh proses kreasi manusia secara gegabah membawa risiko finansial tinggi.

✓ Lolos pemeriksaan redaksi AI. Artikel ini ditulis AI, 10 klaimnya dicocokkan dengan sumber, dan diuji keterbacaannya sebelum terbit. Menemukan kekeliruan? Laporkan ke redaksi.
Sumber berita (1):
  1. CNBC Indonesia: Film Buatan AI Habiskan Rp 27 M, Gagal Total-Sepi Penonton di Bioskop
Lihat hasil pemeriksaan (10 klaim)
Pembuka: 8/10Kejelasan: 8/10Struktur: 8/10Manfaat: 8/10Bahasa: 8/10
KlaimPutusanDasar di sumber
Film Sanxingdui: Future Past diproduksi sepenuhnya menggunakan AI dan menelan biaya produksi US$1,5 juta atau sekitar Rp27,2 miliar.Didukung“Film berbasis AI ini menelan biaya produksi sebesar US$1,5 juta atau sekitar Rp27,2 miliar.”
CNBC Indonesia menyebutkan angka biaya produksi tersebut untuk film Sanxingdui: Future Past.
Sanxingdui: Future Past sepi peminat dan hanya mengantongi pendapatan US$181 ribu atau sekitar Rp3,2 miliar.Didukung“Bona Film Group, hanya berhasil mengantongi pendapatan sebesar US$181 ribu (Rp3,2 miliar) selama masa penayangannya di bioskop.”
CNBC Indonesia melaporkan pendapatan tiket yang diperoleh studio Bona Film Group.
Film ini ditayangkan di lebih dari 10.000 layar bioskop pada debut perdananya.Didukung“meski telah ditayangkan di lebih dari 10.000 layar bioskop pada debut perdananya.”
CNBC Indonesia mencatat jumlah layar penayangan perdana film tersebut.
Biaya film blockbuster Hollywood anggarannya bisa menembus US$100 juta.Didukung“film-film blockbuster Hollywood yang anggarannya bisa menembus US$100 juta.”
CNBC Indonesia membandingkan biayanya dengan anggaran standar film blockbuster Hollywood.
Proyek film Sanxingdui: Future Past melibatkan hampir 100 orang dalam kurun waktu dua tahun.Didukung“Proyek ini melibatkan hampir 100 orang dalam kurun waktu dua tahun hingga akhirnya siap tayang di layar lebar.”
CNBC Indonesia memaparkan jumlah kru dan durasi pengerjaan film.
Sanxingdui: Future Past menceritakan masa depan ketika sistem AI mengendalikan dunia hingga situasi menjadi kacau.Didukung“Sanxingdui: Future Past mengisahkan tentang masa depan ketika sistem AI mengendalikan dunia hingga situasi berubah menjadi sangat kacau.”
CNBC Indonesia menjelaskan sinopsis singkat film tersebut.
Jiang Defu menyatakan bahwa studionya menjadi yang pertama mencoba, mendapatkan izin rilis teater, dan diuji langsung oleh penonton.Didukung“"Kami menjadi yang pertama mencobanya, yang pertama mendapatkan izin rilis teater, dan diuji langsung oleh penonton. Saya pikir hal itu sama sekali tidak mudah,"”
CNBC Indonesia mengutip pernyataan langsung dari Eksekutif Bona Film Group, Jiang Defu.
Penonton yang dikutip AFP menilai kualitas film AI tersebut masih kurang memuaskan dibanding karya buatan manusia dan baru sepadan di masa depan.Didukung“sejumlah penonton yang dikutip AFP mengaku bahwa kualitas film tersebut masih kurang memuaskan dibandingkan dengan film yang diproduksi oleh manusia.”
CNBC Indonesia merangkum penilaian penonton dari laporan AFP.
Film Animals garapan Ben Affleck di Netflix sempat dikritik karena menggunakan elemen AI.Didukung“film Animals garapan Ben Affleck yang tayang di Netflix sempat dikritik akibat penggunaan elemen AI.”
CNBC Indonesia menyebutkan contoh proyek lain yang menuai kritik terkait AI.
Adegan kredit pembuka serial Secret Invasion pada tahun 2023 panen kritikan karena memanfaatkan AI generatif.Didukung“adegan kredit pembuka serial Secret Invasion pada tahun 2023 lalu juga panen kritikan karena memanfaatkan AI generatif.”
CNBC Indonesia mencantumkan serial Secret Invasion sebagai contoh kontroversi AI.

Video AI terbaru

ChatGPT Enterprise at Zendesk: Putting Company Data to Work OpenAI

Baca juga