Langsung ke isi
· Kabar AI & robotika, jernih dan terverifikasiNewsletter  ·  Majalah  ·  Kelas & Layanan
Tampilan
Pengaturan tampilan
Tema

Kabar AI yang mudah dibaca.

Pilihan tersimpan di perangkat Anda.

Langganan
Terkini
Trending

Survei HSBC: 80 Persen Perusahaan Indonesia Sulit Sambungkan AI ke Sistem Keuangan

Sebanyak 80 persen perusahaan di Indonesia kesulitan menyatukan AI dengan sistem keuangan lama karena data pembukuan masih manual.

Ilustrasi: liput24

Poin penting

  • Sebanyak 80 persen perusahaan Indonesia kesulitan memasang AI ke sistem keuangan lama.
  • Tingkat pemakaian AI mencapai 93 persen namun sebagian besar baru untuk tugas dasar.
  • Pembukuan manual dan data yang berantakan menjadi penghambat utama integrasi teknologi.

Banyak perusahaan di Indonesia mulai memakai kecerdasan buatan atau AI. Namun integrasi AI ke sistem keuangan lama ternyata sangat berat.

Temuan itu tercantum dalam laporan survei terbaru dari bank HSBC. Laporan ini diluncurkan di Jakarta pada Kamis, 29 Oktober 2026.

Laporan tersebut bertajuk Redefining Treasury in Asia Pacific: Voices of Treasury 2026. Data dihimpun dari 680 manajer keuangan di sebelas negara.

Survei berjalan dari Maret hingga Juli 2026. Wilayah riset meliputi Australia, Cina, India, Indonesia, hingga Singapura dan Vietnam.

Sebanyak 80 persen perusahaan di Indonesia mengaku kesulitan memasang AI. Masalah ini muncul saat menyatukan AI ke sistem keuangan yang berjalan.

Angka kesulitan di Indonesia jauh lebih tinggi daripada rata-rata kawasan. Di Asia Pasifik, rata-rata kendala serupa dialami oleh 70 persen perusahaan.

Kondisi Indonesia berbanding terbalik dengan Cina. Di Cina, hanya 40 persen perusahaan yang mengeluhkan kendala integrasi AI ke sistem lama.

Data Manual Jadi Sandungan Utama

Menurut laporan Katadata, rintangan sistem lama ini menjadi beban pikiran utama. Para manajer keuangan lebih mencemaskan hal ini ketimbang biaya adopsi.

Kekhawatiran itu juga melampaui isu risiko AI ataupun keterbatasan keahlian staf. Akar persoalannya bermula dari tata kelola data perusahaan.

Anne Suhandojo menjelaskan penyebab utama rintangan tersebut. Anne menjabat sebagai Head of Global Payments Solutions di HSBC Indonesia.

Banyak bisnis lokal ternyata masih memakai pembukuan manual. Catatan transaksi harian bahkan masih bertumpu pada lembar kerja digital sederhana.

Kalau datanya tidak akurat, bagaimana AI bisa membantu? Karena AI hanya tools. Tapi perusahaan yang sudah secara database bagus, rapi, terkonsolidasi, AI akan sangat membantu, kata Anne Suhandojo, Head of Global Payments Solutions HSBC Indonesia.

Padahal antusiasme pemakaian AI di tanah air tergolong sangat tinggi. Sebanyak 93 persen perusahaan di Indonesia sudah mulai menerapkan AI.

Angka adopsi umum ini jauh melampaui rata-rata regional sebesar 81 persen. Bahkan 55 persen perusahaan memakainya untuk efisiensi sistem keuangan.

Penggunaan efisiensi itu mencakup pengelolaan data, validasi, dan pengecekan tagihan. Sekitar 34 persen manajer juga memakai AI agent untuk transaksi otomatis.

Angka pemakaian agen cerdas itu dua kali lipat rata-rata Asia Pasifik. Namun HSBC menilai sebagian besar adopsi masih tahap sangat awal.

AI di Indonesia lebih banyak digunakan untuk menulis surat elektronik. Pemakaian lain sebatas merangkum rapat atau membuat naskah otomatis.

Proyeksi keuangan dan pengaturan arus kas harian justru tetap dikerjakan manual. Perusahaan lokal juga jarang membangun AI khusus untuk keuangan spesifik.

Apa Artinya bagi Pelaku Usaha

Temuan ini menjadi alarm penting bagi para direktur dan pemilik usaha. Membeli perangkat lunak AI canggih tidak otomatis menyelesaikan urusan keuangan.

Kecerdasan buatan hanya bisa bekerja optimal jika data dasar Anda rapi. Tanpa basis data terpusat, sistem pintar justru membaca data yang keliru.

Keputusan investasi teknologi sebaiknya dialihkan terlebih dahulu ke perapian data. Singkirkan cara kerja manual sebelum memaksakan integrasi otomatisasi yang rumit.

✓ Lolos pemeriksaan redaksi AI. Artikel ini ditulis AI, 16 klaimnya dicocokkan dengan sumber, dan diuji keterbacaannya sebelum terbit. Menemukan kekeliruan? Laporkan ke redaksi.
Sumber berita (1):
  1. Katadata: Survei HSBC: Perusahaan Indonesia Hadapi Rintangan Adopsi AI ke Sistem Keuangan
Lihat hasil pemeriksaan (16 klaim)
Pembuka: 8/10Kejelasan: 8/10Struktur: 8/10Manfaat: 8/10Bahasa: 8/10
KlaimPutusanDasar di sumber
Survei HSBC menunjukkan 80 persen perusahaan di Indonesia kesulitan menyambungkan atau mengadopsi AI ke sistem keuangan eksisting/lama.Didukung“Sebanyak 80% perusahaan di Indonesia menghadapi kesulitan mengadopsi AI pada sistem keuangan eksisting mereka.”
Katadata melaporkan persentase tersebut dari survei HSBC.
Kesulitan adopsi AI ke sistem keuangan di Indonesia disebabkan karena data pembukuan masih manual.Didukung“Menurut Head of Global Payments Solutions HSBC Indonesia Anne Suhandojo, hal ini sebab masih ada perusahaan-perusahaan di Indonesia yang melakukan pencatatan keuangan secara manual.”
Katadata mengutip penjelasan Anne Suhandojo dari HSBC Indonesia.
Tingkat pemakaian AI di Indonesia mencapai 93 persen namun sebagian besar baru untuk tahap awal/tugas dasar.Didukung“Porsinya sudah mencapai 93% perusahaan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata regional yang sebesar 81%.”
Katadata menyebut adopsi mencapai 93% dan banyak sistem masih dalam tahap awal.
Laporan survei HSBC bertajuk Redefining Treasury in Asia Pacific: Voices of Treasury 2026 diluncurkan di Jakarta pada Kamis, 29 Oktober 2026.Didukung“kata Anne dalam acara perilisan survei HSBC di Jakarta, Kamis (29/10).”
Katadata memuat keterangan tempat dan tanggal perilisan survei bertajuk Redefining Treasury in Asia Pacific: Voices of Treasury 2026.
Data survei dihimpun dari lebih dari 680 manajer keuangan di sebelas negara.Didukung“dilakukan terhadap lebih dari 680 manajer keuangan perusahaan-perusahaan di Australia, Cina, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam.”
Katadata mencantumkan jumlah responden dan negara yang disurvei.
Survei berlangsung pada periode Maret hingga Juli 2026.Didukung“Survei dilakukan pada periode Maret sampai Juli 2026, dengan mempelajari bagaimana adopsi AI mempengaruhi pengelolaan keuangan perusahaan.”
Katadata mencantumkan periode pelaksanaan survei.
Rata-rata perusahaan di Asia Pasifik yang menghadapi kendala adopsi AI pada sistem keuangan eksisting sebesar 70 persen.Didukung“Survei terbaru HSBC menunjukkan rata-rata 70% perusahaan di sebelas negara Asia Pasifik menghadapi kesulitan dalam mengadopsi kecerdasan buatan (AI) ke sistem keuangan eksisting mereka.”
Katadata menyebut angka rata-rata regional 70%.
Di Cina, hanya 40 persen perusahaan yang menghadapi tantangan adopsi AI pada sistem keuangan eksisting.Didukung“Sebaliknya, di Cina, hanya 40% perusahaan yang menghadapi tantangan adopsi AI pada sistem keuangan eksisting”
Katadata mengutip laporan HSBC tentang persentase di Cina.
Rintangan integrasi ke sistem keuangan eksisting menjadi kekhawatiran yang melampaui biaya adopsi, risiko AI, maupun keterbatasan kapasitas manusia/staf.Didukung“Tantangan integrasi AI pada sistem keuangan yang sudah ada ini menjadi kekhawatiran manajer keuangan perusahaan Indonesia lebih daripada persoalan lainnya seperti keterbatasan kapasitas manusia”
Katadata memaparkan perbandingan prioritas kekhawatiran manajer keuangan.
Anne Suhandojo menjabat sebagai Head of Global Payments Solutions di HSBC Indonesia.Didukung“Menurut Head of Global Payments Solutions HSBC Indonesia Anne Suhandojo, hal ini sebab masih ada perusahaan-perusahaan di Indonesia yang melakukan pencatatan keuangan secara manual.”
Katadata menyebut jabatan Anne Suhandojo.
Kutipan Anne Suhandojo: Kalau datanya tidak akurat, bagaimana AI bisa membantu? Karena AI hanya tools. Tapi perusahaan yang sudah secara database bagus, rapi, terkonsolidasi, AI akan sangat membantu.Didukung“Kalau datanya tidak akurat, bagaimana AI bisa membantu? Karena AI hanya tools . Tapi perusahaan yang sudah secara database bagus, rapi, terkonsolidasi, AI akan sangat membantu”
Katadata mengutip langsung pernyataan Anne Suhandojo.
Rata-rata adopsi AI regional Asia Pasifik sebesar 81 persen.Didukung“Porsinya sudah mencapai 93% perusahaan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata regional yang sebesar 81%.”
Katadata mencatat angka rata-rata regional.
Sebanyak 55 persen perusahaan di Indonesia sudah menggunakan AI untuk efisiensi sistem keuangan mereka seperti pengelolaan dan validasi data hingga pengecekan tagihan.Didukung“Bahkan, sebanyak 55% perusahaan sudah menggunakan AI untuk efisiensi sistem keuangan mereka, seperti untuk pengelolaan dan validasi data, sampai untuk pengecekan tagihan pembayaran.”
Katadata memuat angka 55% beserta fungsi efisiensinya.
Sebanyak 34 persen manajer keuangan di Indonesia sudah menggunakan AI agent untuk mengotomatisasi proses transaksi keuangan, dua kali lipat rata-rata Asia Pasifik (17 persen).Didukung“Sedangkan sebanyak 34% manajer keuangan di Indonesia sudah menggunakan AI agent untuk mengotomatisasi proses transaksi keuangan, dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan implementasi rata-rata negara”
Katadata mencantumkan persentase 34% berbanding 17% regional.
AI umumnya digunakan untuk alat produktivitas seperti menulis email atau merangkum rapat, sedangkan proyeksi keuangan hingga cash flow masih manual.Didukung“Umumnya, AI digunakan untuk alat produktivitas personal seperti menulis email atau merangkum rapat. Sedangkan penggunaan data untuk proyeksi keuangan sampai mengatur cash flows perusahaan masih manual”
Katadata mengutip laporan survei HSBC terkait pola penggunaan AI.
Manajer keuangan perusahaan Indonesia cenderung lebih sedikit mengadopsi AI yang dikustomisasi untuk aktivitas keuangan spesifik.Didukung“Jika dibandingkan dengan rata-rata negara Asia Pasifik lainnya, manajer keuangan perusahaan Indonesia cenderung lebih sedikit yang mengadopsi AI yang dikustomisasi untuk aktivitas keuangan spesifik.”
Katadata menjelaskan perbandingan adopsi AI spesifik.

Video AI terbaru

API credits, now in ChatGPT Pro and Business plans OpenAI

Baca juga