Komdigi Minta Publik Cek Ulang Jawaban Chatbot AI dan Konten Medsos
Kementerian Komunikasi dan Digital mengingatkan jawaban chatbot AI bukan cerminan utuh realitas sosial. Pengguna wajib memverifikasi data sebelum mengambil keputusan.
Ilustrasi: liput24
Poin penting
- Komdigi menyebut jawaban chatbot AI bekerja berdasarkan pola sehingga masih berpeluang keliru.
- Pengguna diminta selalu memeriksa ulang data AI ke sumber rujukan dan media daring terverifikasi.
- Platform digital didesak lebih transparan soal algoritma rekomendasi dan pemakaian sistem AI.
Kementerian Komunikasi dan Digital mengingatkan masyarakat agar tidak menelan mentah-mentah jawaban chatbot kecerdasan buatan. Jawaban mesin pintar tersebut dinilai belum tentu mencerminkan kenyataan yang sebenarnya.
Peringatan ini disampaikan oleh Direktur Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Komdigi, Marroli J. Indarto. Ia berbicara dalam acara Ngopi Komdigi di Jakarta pada Kamis (29/10/2026).
Menurut laporan Detik, Marroli menjelaskan bahwa chatbot AI menyusun kalimat berdasarkan pola data. Sistem tersebut memproses susunan bahasa yang telah dipelajari sebelumnya.
Cara kerja berbasis pola itu membuka peluang munculnya jawaban yang keliru. Karena itu, informasi dari chatbot tidak bisa langsung dianggap sebagai kebenaran mutlak.
"Bahkan kalau kita jujur pada beberapa platform AI ya, itu kan mereka juga mengatakan bahwa dia itu 'AI can make mistakes'. Jadi masih ada potensi dia itu platform ini kemudian tidak sepenuhnya benar ya," kata Marroli J. Indarto, Direktur Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Komdigi.
Algoritma Medsos Bukan Gambaran Utuh Masyarakat
Marroli juga menyoroti peran algoritma pada media sosial. Algoritma adalah sistem otomatis penata konten yang bekerja menurut minat dan riwayat aktivitas pengguna.
Sistem rekomendasi itu membuat setiap orang melihat isi linimasa yang berbeda. Akibatnya, apa yang ramai di layar ponsel belum tentu menggambarkan situasi nyata di masyarakat.
Ia menilai konten media sosial tidak dapat menjadi satu-satunya rujukan. Masyarakat perlu sadar bahwa linimasa mereka sudah tersaring oleh sistem otomatis.
Komdigi menegaskan pentingnya campur tangan manusia untuk menyaring kabar. Pengguna harus melakukan verifikasi silang demi memastikan ketepatan data.
Marroli menyarankan masyarakat mencocokkan kembali keterangan AI dengan media daring yang terverifikasi. Sumber berita tepercaya dinilai dapat memberikan data yang bisa dipertanggungjawabkan.
Desakan Transparansi bagi Pemilik Platform
Selain meminta warga bersikap kritis, Komdigi menuntut tanggung jawab para penyedia layanan digital. Perusahaan teknologi diminta lebih terbuka mengenai cara kerja sistem mereka.
Keterbukaan itu mencakup penjelasan tentang sistem kurasi konten dan proses penyaringan unggahan. Penyedia platform juga wajib membeberkan cara mereka memanfaatkan teknologi AI.
Komdigi juga meminta perusahaan digital menyediakan kanal pengaduan resmi. Saluran ini dibutuhkan jika ada pengguna yang merasa dirugikan oleh sistem otomatis.
"Intinya adalah AI boleh membantu kita berpikir tapi kemudian keputusan dan penilaian tetap harus berada di tangan para penggunanya," kata Marroli J. Indarto, Direktur Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Komdigi.
Teknologi pintar tetap memiliki manfaat besar dalam kehidupan harian. Alat ini terbukti membantu proses pencarian informasi, kegiatan belajar, dan kelancaran bekerja.
Kendati demikian, Komdigi menegaskan peran penilaian manusia tidak boleh tergantikan oleh mesin. Kendali pertimbangan akhir harus tetap dipegang oleh manusia.
Apa Artinya bagi Pelaku Usaha
Peringatan ini menjadi sinyal penting bagi para pimpinan perusahaan di Indonesia. Banyak kantor kini memakai chatbot AI untuk riset pasar dan penyusunan draf dokumen bisnis.
Langkah mengandalkan jawaban AI tanpa pemeriksaan ganda mengandung risiko operasional yang tinggi. Data yang salah bisa merusak keputusan investasi atau rencana pemasaran produk.
Para direktur perlu menetapkan aturan kerja baku di meja staf. Setiap laporan kerja berbasis AI wajib diverifikasi dengan dokumen pembanding yang sah.
Perusahaan juga harus berhati-hati membaca tren di media sosial. Sorotan di linimasa tidak selalu mewakili kebutuhan seluruh pelanggan di dunia nyata.
Lihat hasil pemeriksaan (10 klaim)
| Klaim | Putusan | Dasar di sumber |
|---|---|---|
| Komdigi mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai jawaban chatbot AI dan memeriksa kebenarannya. | Didukung | “Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai jawaban yang dihasilkan chatbot kecerdasan buatan (AI).” Detik memberitakan imbauan Komdigi kepada masyarakat terkait chatbot AI. |
| Marroli J. Indarto menjabat sebagai Direktur Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Komdigi. | Didukung | “Direktur Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Komdigi, Marroli J. Indarto,” Detik menyebutkan jabatan lengkap Marroli J. Indarto. |
| Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Ngopi Komdigi di Jakarta pada Kamis (29/10/2026). | Didukung | “ujar Marroli di acara Ngopi Komdigi, Jakarta, Kamis (29/10/2026).” Detik mencatat waktu dan lokasi acara tersebut diselenggarakan. |
| Chatbot AI menyusun jawaban berdasarkan pola dan mekanisme pemrosesan bahasa yang dipelajari. | Didukung | “Dia menjelaskan bahwa sistem AI menghasilkan jawaban berdasarkan pola yang dipelajari dan mekanisme pemrosesan bahasanya.” Detik menjelaskan cara kerja chatbot AI menurut Marroli. |
| Platform AI mengakui sistemnya dapat berbuat keliru melalui peringatan 'AI can make mistakes'. | Didukung | “"Bahkan kalau kita jujur pada beberapa platform AI ya, itu kan mereka juga mengatakan bahwa dia itu 'AI can make mistakes'. Jadi masih ada potensi dia itu platform ini kemudian tidak sepenuhnya benar ya,"” Detik mengutip pernyataan Marroli terkait potensi kesalahan platform AI. |
| Algoritma linimasa media sosial dipengaruhi oleh aktivitas, minat, dan interaksi pengguna. | Didukung | “Konten yang muncul di linimasa dipilih dan direkomendasikan berdasarkan sejumlah faktor, termasuk aktivitas, minat, dan interaksi pengguna.” Detik menjelaskan faktor penentu rekomendasi konten media sosial. |
| Konten media sosial tidak dapat dijadikan gambaran utuh dari realitas sosial masyarakat. | Didukung | “"Jadi apa yang muncul di media sosial itu tentu tidak menjadi gambaran utuh di dalam realitas sosial," ungkapnya.” Detik mengutip penegasan Marroli terkait representasi media sosial. |
| Komdigi menekankan pentingnya intervensi manusia dan pengecekan ke sumber terpercaya seperti media daring terverifikasi. | Didukung | “"Makanya penting untuk kita melakukan namanya intervensi manusia untuk mengecek terutama. Cek dan recheck juga penting adalah kita mencari konfirmasi kebenaran pada sumber-sumber yang verified” Detik memuat kutipan imbauan verifikasi manual. |
| Komdigi meminta platform digital transparan soal rekomendasi konten, moderasi, penggunaan AI, dan menyediakan mekanisme pengaduan. | Didukung | “Hal ini mencakup penjelasan mengenai rekomendasi konten, proses moderasi, penggunaan AI, serta mekanisme pengaduan bagi pengguna yang merasa dirugikan.” Detik merinci aspek transparansi yang diminta Komdigi kepada pengembang platform. |
| AI memiliki manfaat untuk membantu mencari informasi, belajar, serta mendukung pekerjaan. | Didukung | “Marroli juga mengingatkan perkembangan AI membawa manfaat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari mencari informasi hingga mendukung pekerjaan dan kegiatan belajar.” Detik memaparkan manfaat AI yang diakui Komdigi. |
Video AI terbaru
API credits, now in ChatGPT Pro and Business plans
