Langsung ke isi
· Kabar AI & robotika, jernih dan terverifikasiNewsletter  ·  Majalah  ·  Kelas & Layanan
Tampilan
Pengaturan tampilan
Tema

Kabar AI yang mudah dibaca.

Pilihan tersimpan di perangkat Anda.

Langganan
Terkini
Trending

Startup Dream Raih Modal Rp260 Miliar Buat Otomasi Desain Gedung Pakai AI

Mantan petinggi Palantir meluncurkan Dream dengan dana 17 juta dollar AS dari a16z untuk mempercepat perencanaan proyek konstruksi gedung.

Ilustrasi: liput24

Poin penting

  • Dream meraih modal awal 17 juta dollar AS dipimpin oleh Andreessen Horowitz.
  • Model AI ini dilatih memakai data izin bangunan seluas lebih dari 9,2 juta meter persegi.
  • Sistem Dream sudah dipakai pada 10 proyek aktif di wilayah Texas dan California.

Jumlah gedung yang dibangun di Amerika Serikat kini makin sedikit dibanding beberapa dekade lalu. Lonjakan biaya pembangunan menjadi salah satu penyebab utama masalah tersebut.

Pendiri Dream meyakini teknologi kecerdasan buatan dapat mendongkrak produktivitas sektor konstruksi. Perusahaan rintisan ini hadir untuk mengotomasi proses desain dan rekayasa fisik bangunan.

Laporan TechCrunch menyebutkan Dream resmi keluar dari masa perintisan rahasia. Mereka mengantongi pendanaan awal sebesar 17 juta dollar AS atau sekitar 260 miliar rupiah.

Putaran modal ini dipimpin oleh firma modal ventura Andreessen Horowitz. Investor lain seperti SV Angel, XYZ, dan Zigg Capital ikut menyuntikkan dana.

Gantikan Perangkat Lunak Konvensional

Dream didirikan oleh Andy Elder dan Arjun Mathur. Keduanya merupakan teman sekamar di Universitas Stanford dan bekerja satu dekade di Palantir.

Elder sebelumnya memimpin tim desain produk beranggotakan 800 orang untuk badan pertahanan Amerika Serikat. Sementara itu, Mathur bertugas memimpin divisi komersial sebagai wakil presiden senior.

Target utama Dream adalah menggantikan piranti lunak lama seperti AutoCAD dan Revit buatan Autodesk. Menurut Mathur, para perancang selama ini masih menggambar tiap komponen secara manual pada sistem lama.

"Kita beralih dari internet dial-up ke AI super cerdas, tetapi kemampuan kita membangun dunia fisik di sekitar kita justru menurun," kata Arjun Mathur, Pendiri Dream.

Program buatan Dream berbeda dari bot teks umum seperti ChatGPT. Gambar gedung dari bot umum biasanya tidak kokoh secara struktur bangunan fisik.

Dream melatih model dunia mereka memakai data arsip izin bangunan di Amerika Serikat. Luas data bangunan yang dipelajari mesin ini mencapai lebih dari 100 juta kaki persegi.

Data tersebut setara dengan lebih dari 9,2 juta meter persegi fisik bangunan. Pendiri Dream menyebut pendekatan teknologi ini sebagai metode pengenalan struktur.

"Model kami benar-benar paham isi dinding itu. Material apa yang terpakai, bahan balok penopang, dan berapa beban yang sanggup mereka tahan," kata Andy Elder, Pendiri Dream.

Persaingan Pasar dan Uji Proyek

Menurut penuturan para pendiri, model Dream sanggup memperhitungkan elemen internal gedung secara presisi. Sistem ini memetakan instalasi pipa air hingga saluran pendingin udara.

Para pendiri juga mengklaim pengguna dapat memakai platform ini untuk menaksir keseluruhan anggaran biaya proyek. Saat ini produk Dream sudah mulai dijual kepada arsitek, insinyur teknik, dan pengembang.

Sistem tersebut kini telah beroperasi pada 10 proyek bangunan aktif di wilayah Texas dan California. Langkah Dream ini membuka babak baru dalam digitalisasi proyek rancang bangun.

Sejumlah startup lain seperti Motif, Snaptrude, dan Arcol juga memperbarui piranti lunak konstruksi dengan AI. Namun, pendiri Dream mengklaim hanya produk mereka yang bisa merancang seluruh bangunan utuh secara instan.

Apa Artinya bagi Pelaku Usaha

Bagi direktur properti dan kontraktor, teknologi ini menawarkan pemangkasan waktu gambar kerja secara drastis. Biaya pra-konstruksi bisa ditekan karena kalkulasi bahan dan struktur berjalan otomatis lewat satu sistem.

Pengembang lokal di Indonesia juga perlu mulai menata arsip digital rancangan proyek mereka. Perusahaan yang memiliki basis data bangunan rapi akan lebih mudah memanfaatkan sistem otomasi baru.

Kendati demikian, para pimpinan proyek tidak boleh menyerahkan tanggung jawab keselamatan sepenuhnya kepada mesin. Keahlian insinyur manusia tetap mutlak diperlukan untuk memeriksa kalkulasi akhir dan kondisi di lapangan.

✓ Lolos pemeriksaan redaksi AI. Artikel ini ditulis AI, 14 klaimnya dicocokkan dengan sumber, dan diuji keterbacaannya sebelum terbit. Menemukan kekeliruan? Laporkan ke redaksi.
Sumber berita (1):
  1. TechCrunch: Ex-Palantir execs launch Dream with $17M from a16z to build AI world models for construction
Lihat hasil pemeriksaan (14 klaim)
Pembuka: 8/10Kejelasan: 8/10Struktur: 8/10Manfaat: 7.5/10Bahasa: 8/10
KlaimPutusanDasar di sumber
Dream meraih modal awal sebesar 17 juta dollar AS (sekitar 260 miliar rupiah) dipimpin Andreessen Horowitz.Didukung“Dream has emerged from stealth with $17 million in seed funding led by Andreessen Horowitz”
TechCrunch melaporkan Dream keluar dari masa perintisan dengan pendanaan tahap awal 17 juta dollar AS yang dipimpin Andreessen Horowitz.
Investor lain dalam putaran pendanaan mencakup SV Angel, XYZ, dan Zigg Capital.Didukung“alongside other backers, including SV Angel, XYZ, and Zigg Capital.”
TechCrunch menyebutkan ketiga investor tersebut sebagai partisipan pendanaan bersama Andreessen Horowitz.
Model AI Dream dilatih menggunakan data izin bangunan seluas lebih dari 100 juta kaki persegi (sekitar 9,2 juta meter persegi) dari arsip izin di AS.Didukung“Dream’s world model is trained on more than 100 million square feet of building data gathered from permit archives across the United States.”
TechCrunch menyatakan model dilatih dengan arsip data izin bangunan seluas lebih dari 100 juta kaki persegi.
Platform Dream telah digunakan pada 10 proyek aktif di Texas dan California.Didukung“The platform is already deployed across 10 active projects in Texas and California.”
TechCrunch menyebutkan penyebaran platform Dream pada 10 proyek di dua wilayah tersebut.
Jumlah gedung yang dibangun di AS kini lebih sedikit dibanding beberapa dekade lalu akibat lonjakan biaya pembangunan.Didukung“Fewer buildings are constructed in the U.S. today than a few decades ago , as development costs have surged.”
TechCrunch mengonfirmasi penurunan aktivitas pembangunan gedung di AS karena kenaikan biaya.
Andy Elder dan Arjun Mathur adalah teman sekamar di Stanford yang menghabiskan satu dekade di Palantir.Didukung“Andy Elder and Arjun Mathur were Stanford roommates who both studied computer science before spending a decade at Palantir.”
TechCrunch menguraikan latar belakang kedua pendiri di Stanford dan Palantir.
Elder memimpin tim desain produk 800 orang untuk badan pertahanan dan intelijen AS, sedangkan Mathur merupakan wakil presiden senior divisi komersial.Didukung“Elder led product design for a team of 800 people building software for U.S. defense and intelligence agencies, while Mathur served as a senior vice president in the company’s commercial practice.”
TechCrunch merinci posisi masing-masing pendiri selama bekerja di Palantir.
Target Dream adalah menggantikan piranti lunak lama seperti AutoCAD dan Revit buatan Autodesk.Didukung“The startup aims to replace cumbersome, outdated AEC tools like Autodesk’s AutoCAD and Revit.”
TechCrunch menyatakan tujuan startup tersebut terhadap piranti lunak AEC konvensional.
Arjun Mathur menyatakan bahwa dunia telah beralih dari internet dial-up ke AI super cerdas, tetapi kemampuan membangun dunia fisik di sekitar justru menurun.Didukung““We’ve gone from dial-up internet to superintelligent AI, but our ability to build the physical world around us has actually decreased,” Mathur told TechCrunch.”
TechCrunch memuat kutipan langsung dari pernyataan Arjun Mathur.
Gambar gedung yang dihasilkan LLM umum seperti ChatGPT dinilai tidak kokoh secara struktur fisik.Didukung“While a standard LLM like ChatGPT can generate an image of a building, the result won’t be structurally sound.”
TechCrunch menjelaskan perbedaan output LLM umum dengan model Dream yang berbasis fisika.
Dream menamai pendekatannya sebagai structural cognition karena menghasilkan desain presisi yang mencakup instalasi pipa dan pendingin udara (HVAC).Didukung“The startup calls its approach “structural cognition” because its model generates structurally precise designs that account for internal building elements like plumbing and HVAC.”
TechCrunch mencatat istilah dan kapabilitas model tersebut.
Andy Elder menyatakan model mereka memahami isi dinding, material yang dipakai, bahan balok penopang, dan batas beban yang dapat ditahan.Didukung““Our model actually understands what’s within those walls. What materials are used, what the beams are made of, and how much weight they can support,” Elder said.”
TechCrunch mengutip langsung pernyataan Andy Elder mengenai pemahaman model terhadap struktur dinding dan balok.
Menurut para pendiri, produk Dream sudah mulai dijual kepada profesional AEC dan pengembang untuk konseptualisasi desain dan penaksiran total biaya.Didukung“Dream has already begun selling its product to AEC professionals and developers, who use the model to conceptualize building designs and estimate overall costs, according to the founders.”
TechCrunch mencatat klaim pendiri mengenai penjualan produk dan fungsinya.
Startup lain seperti Motif, Snaptrude, dan Arcol juga mengembangkan AI untuk piranti lunak konstruksi, tetapi pendiri Dream mengklaim hanya mereka yang mengembangkan model dunia untuk merancang seluruh gedung secara instan.Didukung“While Dream isn’t the only company attempting to update AEC software with AI — other startups working on this include Motif , Snaptrude , and Arcol — Elder and Mathur claim that they are the only ones”
TechCrunch menyebutkan para kompetitor sekaligus mencatat atribusi klaim keunikan dari pendiri Dream.

Video AI terbaru

ChatGPT Enterprise at Zendesk: Putting Company Data to Work OpenAI

Baca juga